You are currently viewing Terpesona Si Putih Jamur Tiram, Calon Duta Petani Milenial Rela Turun Dari Panggung Model

Terpesona Si Putih Jamur Tiram, Calon Duta Petani Milenial Rela Turun Dari Panggung Model

Purwakarta : Terpesona potensi Si Putih jamur tiram membuat Nopan Purwadi warga Desa Sukahaji Kecamatan Tegal Waru Kabupaten Purwakarta Jawa Barat, rela meninggalkan hiruk pikuk dunia model dan melenggang sebagai petani.

Lahir dari keluarga petani, Nopan mengaku mantap memilih menjadi petani dan merasa lebih bahagia karena bisa memberdayakan masyarakat sekitar dengan usaha jamur tiramnya. Berkat dedikasinya ini pada 2018 kelompoknya memperoleh penghargaan Bupati Purwakarta sebagai kelompok yang berhasil mengentaskan kemiskinan di wilayahnya dan penghargaan sebagai Petani Milenial Usaha Budidaya Jamur Tiram di tahun 2020. Dari hasil taninya pula Ia bisa melanjutkan pendidikan.

“ Saya seneng dengan bertani karena saya merasa lebih fresh. Hati dan pikiran saya adem,Saya merasa uang lebih berkah dan bermanfaat. Dari hasil tani selain bisa bantu mempekerjakan orang tetangga sekitar juga bisa melanjutkan pendidikan, “ ucapnya Kamis, (25/032021).

Belajar otodidak melalui internet dan media lainnya Nopan bisa membuat kultur jaringan. Ia menjadikan lorong rumah ukuran 1,5 m x 4 meter sebagai awal usaha jamur tiram, yang kini mantap ditekuninya. Lorong rumah tersebut diisi 500 baglog dan hasil panen pertamanya langsung Ia buat jamur crispy yang dijual menyasar anak – anak sekolah dengan kemasan sederhana dibandrol seharga 1000an rupiah.

Seiring waktu, usaha tani jamurnya semakin berkembang dan memerlukan perluasan lahan. Iapun memanfaatkan kamar rumah dan kandang sapi yang disulap menjadi rumah jamur (Kubung). Jamur yang dihasilkan langsung diolah menjadi olahan jamur tiram crispy berbagai rasa yang dikemas cantik dan laris manis di pasaran dengan brand Jamur Crispy Ngehe yang berarti Ngeunah dan Hemat. Produksinya ini bisa diperoleh di pasar – pasar online terkemuka. Dalam sehari Ia memproduksi 30 – 40 kilogram jamur crispy dan setiap dua minggu Iapun sibuk memenuhi pesanan khusus rutin 100 kg.

Hal ini lantas mendorong Nopan berinovasi mengembangkan kaldu jamur dan rendang jamur kemasan.

Kesuksesannya memunculkan animo warga sekitar berusaha tani jamur yang kemudian membuka peluang usaha penjualan baglog. Dalam sebulan tak kurang dari 400 – 7000 log berhasil keluar. Hasil jamur warga sekitar Ia tampung, dilakukan packing selanjutnya dijual langsung ke konsumen.

“ Yang membeli baglog, hasil jamurnya kami tampung juga, kami kemas dan kami jual langsung ke konsumen, jamur kami, “ terangnya.

Cita – cita besarnya saat ini ialah membangun tempat wisata edukasi khusus jamur dan mengajak kalangan muda untuk menjadi petani. Ia merasa pertanian bisa membawanya pada kehidupan yang lebih layak.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, di era modern ini Ia meminta kepada petani untuk mulai menjual hasil panen setelah melalui proses. Kata Mentan mengelola pertanian harus dimulai dari hulu, kemudian, pascapanennya.

Hal senada diungkapkan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) Dedi Nursyamsi. Ia menekankan agar petani mengelola komoditas pertanian yang dihasilkan sampai hilir. Pengelolaan sampai hilir terbukti memberikan keuntungan sektor pertanian yang jauh lebih besar daripada yang pengelolaannya hanya berhenti di hulu.

“ semakin hilir nilai tambahnya semakin besar. Jadi petani padi jangan jual padi, petani ubi jangan jual ubi, tapi harus jual olahannya, karena olahan itu sebetulnya memberikan nilai yang semakin besar., “ tegasnya.(Regi/PPMKP)