You are currently viewing Tembok Penutup Atap Roboh, Atang: Ini Pekerjaan yang Sangat Gegabah
Ketua DPRD Kota Bogor, Atang Trisnanto memberikan keterangan kepada media terkait robohnya tembok penutup atap Gedung DPRD Kota Bogor.

Tembok Penutup Atap Roboh, Atang: Ini Pekerjaan yang Sangat Gegabah

Bogor, WARTAPAKWAN.CO.ID – Ambruknya tembok penutup atap Gedung DPRD Kota Bogor membuat pimpinan dewan meradang. Betapa tidak, baru sekitar enam bulan terhitung diresmikan April 2019 lalu, fisik bangunan rumah para wakil rakyat ini jauh dari kesan kokoh.  Padahal, proyek pengerjaannya menelan anggaran sebesar 70 Miliar.

Kontan saja Ketua DPRD Kota Bogor, Atang Trisnanto menyerukan untuk dilakukan audi investigasi secara total pada seluruh bangunan. “Untuk gedung yang besar, dengan ketinggian lima lantai, serta dengan kondisi cuaca kota bogor curah hujan tinggi, dan kerap diterjang angin kencang, kami melihat ini sebuah pekerjaan yang gegabah,” tegas Atang usai melakukan peninjauan langsung di lokasi.

Dari hasil pantauan langsung di lokasi, Atang melihat bahwa dinding lantai lima yang jebol terlihat lemah konstruksinya. Tidak terlihat adanya besi beton yang menjadi rangka dinding maupun penyambung dengan lantai. Temuan lain juga kami lihat konstruksi plafon tidak menggunakan besi hollow dan hanya ditarik dengan kawat.

Inilah tembok penutup atap Gedung DPRD Kota Bogor yang roboh.

Untuk itu, pihaknya minta agar segera diadakan audit secara total. Harus ada pemeriksaan oleh pihak yang berwenang.  Pertama, audit kelayakan gedung. Atang ingin memastikan bahwa konstruksi bangunan yang ada sekarang benar-benar aman. “Gedung dewan adalah pusat aktivitas bersama masyarakat, ormas,  pemerintah kota, pegawai dprd, dan juga anggota dewan, sehingga harus terjamin keamanan dan keselamatan jiwa yang beraktivitas di dalamnya,” papar Atang.

Kedua, audit seluruh proses pembangunan gedung DPRD. Harus ditelusuri kemungkinan penyimpangan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan finishing pembangunan. Baik ketidaksesuaian dengan standar kualitas maupun kemungkinan jika terjadi penyelewengan.

“Pembangunan gedung DPRD ini menggunakan dana negara yang demikian besar. Dan usia bangunan juga masih baru. Sehingga mengherankan jika terjadi ambruknya dinding ruang paripurna. Jadi, sekali lagi, harus ada audit secara total,” tegas Atang. (cay)