You are currently viewing Suherman Ikamaja : Wirausaha di Bidang Pertanian Membawa Saya Ke Jepang

Suherman Ikamaja : Wirausaha di Bidang Pertanian Membawa Saya Ke Jepang

Ket. Foto : Suherman Pengelola P4S Karya Ikamaja Lebak Banten. Keputusannya memilih ” Jalur Sunyi ” (Pertanian) membawanya ke Jepang.

Ciawi Bogor – PPMKP : Suherman, pria kelahiran 14 Maret 1984 sejak kecil bercita – cita jadi Insinyur pertanian dengan pikiran sederhana seorang anak.
“ Waktu kecil saya membayangkan enaknya jadi Insinyur Pertanian, dimana ketika para petani panen pasti sebagai insinyur banyak yang akan memberi hasil panennya. Petani panen mangga pasti dikasih mangga, panen padi pasti dikasih padi,”” ujarnya. Hal ini dikisahkan Suherman dalam acara Jumpa Petani yang disiarkan secara live di Radio Pertanian Ciawi.
Menurut Suherman cita – citanya itu kemudian berubah – ubah saat ia masuk SMP dan SMA tapi tak satupun yang tercapai. Kehidupan orangtuanya yang petani mendorongnya masuk kepertanian yang ia sebut sebagai jalur sunyi.
“ Pertanian saya sebut sebagai jalur sunyi, karena jalur ini tidak banyak orang yang tertarik, sepi peminat, “ tutur pengelola P4S Ikamaja Lebak Banten ini. Pada saat mendaftar menjadi peserta magang Jepang ia menekuni budidaya lele. Usaha inilah yang membawanya ke Jepang, berawal dari informasi seorang teman yang menyampaikan ada peluang petani muda magang diJepang.
“ Informasi ini tidak saya sia- siakan, berbekal informasi tersebut saya mencari tahu ke Dinas Pertanian dan akhirnya saya mendapat informasi mengenai tahapan – tahapan yang harus dilalui untuk bisa ke Jepang, “ tuturnya.
Ia mengatakan tahapan – tahapan yang dilalui tidaklah mudah karena banyak pesaing petani lain dari berbagai provinsi di Indonesia yang juga ingin menjadi peserta magang. Akhirnya dengan bermodal pengetahuan tentang kewirausahaan ia lolos di seleksi pertama tentang kewirausahaan dan mengikuti tahap selanjutnya yaitu orientasi dan diseleksi oleh tim Puslatan dan Ikamaja. Iapun lolos dan mewakili Provinsi Banten tahun 2009 kemudian terbang ke Jepang melalui program JEC Tokyo dan tinggal di provinsi Nara. Hidup selama setahun di Jepang dikatakan Suherman menambah pengalaman hidup.berkesan. Bukan hanya ilmu pertanian tetapi juga ilmu hidup. Bagaimana masyarakat Jepang dengan disiplin yang sangat tinggi , mereka bisa menerapkan konsep “ Wal Ashri “, biisa memanfaatkan waktu dengan baik.
“ Satu konsep Wal Ashri yang bagi kita umat Islam ada dan diajarkan Al Qur’an , tapi ternyata mereka yang bisa menerapkan dan mengaplikasikannya, bagaimana waktu itu penting bagi mereka dan dimanage dengan baik, “ ujar Herman.
Pemilik usaha Ternak ayam petelur dengan omzet Rp. 66,0000,000 per bulan ini menuturkan Jepang juga terkenal dengan sikap pekerja keras , Jepang menurutnya adalah negeri tempaan, melatih jiwa – jiwa samurai, sehingga ketika pulang ke Indonesia peserta magang bisa menjadi Kopassus nya pertanian Indonesia. Sikap hidup masyarakat Jepang lain yang terpuji dan paling berkesan ialah toleransi antar anggota keluarga dan terhadap pemeluk agama lain. Suherman menceritakan, masyarakat Jepang memiliki sikap apresiatif terhadap dirinya, ketika ia menyampaikan kepada otosan bahwa ia seorang muslim dan harus melakukan shalat lima waktu, mereka selalu mengingatkan.
“ Bahkan dalam pertemuan – pertemuan dengan masyarakat sekitar selalu disampaikan bahwa saya muslim, sembahyang lima kali sehari, dll, “ cerita Herman.
Iapun merasa bersyukur ketika ia bisa berbagi mengenai bagaimana Islam sangat memuliakan orangtua terutama ibu, salah satunya dengan cara mencuci kaki ibu dan merekapun mencoba menerapkannya.
“ Pengalaman di Jepang, sungguh berharga, tak terbayar oleh materi, “ tuturnya. (RG/PPMKP)