You are currently viewing Sensei, Ungkap Metode Jitu Ajari Peserta Magang Bahasa Jepang

Sensei, Ungkap Metode Jitu Ajari Peserta Magang Bahasa Jepang

Ket Foto : Yuki Aramdhani Sensei bahasa Jepang Pelatihan Pemantapan Magang Jepang angkatan 36.

Ciawi Bogor – PPMKP : Kemampuan berbahasa jepang merupakan hal yang harus dikuasai para peserta yang lolos seleksi untuk magang pertanian di Jepang. Ini dimaksudkan agar komunikasi berjalan dengan lancar dan tidak menemui kendala terjadinya kesalah fahaman saat peserta tinggal dengan keluarga angkat (Otosan) dan melakukan aktivitas pekerjaan. Demikian pula 44 peserta Pelatihan Pemantapan Magang Jepang yang dilaksanakan Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) 20 Maret – 10 April 2019. Para petani milenial ini dengan tekun mempelajarai bahasa Jepang yang diberikan para Sensei (pelatih) dengan awal pembelajaran pengenalan huruf hiragana dan katakana.
“ Pembelajaran Bahasa Jepang yang diberikan kepada peserta magang pertanian ke Jepang diawali dengan pembelajaran pengenalan huruf, menulis huruf hiragana dan katakana jepang, yang merupakan dasar dari panduan yang diberikan oleh Asosiasi jepang dalam bentuk Hiragana, “ ujar Yuki Aramdhani dari P4S Okiagaru Ikamaja Cianjur Jawa Barat.
Yuki menjelaskan karena program magang Jepang ini tidak seperti pembelajaran atau perkuliahan tetapi pembelajaran langsung melakukan usaha tani, maka metode yang diajarkan adalah bahasa keseharian sehingga langsung menjurus ke kosa kata yang sering diucapkan oleh petani baik itu alat dan bahan pertanian kemudian cara menanam, memanen.
“ Jadi kosakatanya akan langsung kebahasa sehari – hari yang digunakan, karena mereka akan tinggal dikeluarga petani, bahasanyapun bahasa petani tidak seformal bahasa pidato atau bahasa ceramah “ terangnya.
Metode membaca, dengar ucapkan dan pikirkan (Yoku mite, Yoku Kite, Yoku Kangaete, Yoku Hanaste). “ Silakan baca, silakan dengar, silakan ucapkan dan pikirkan, “ jelasnya. Dengan cara ini peserta bisa membaca huruf hiragana, kemudian dicoba untuk mendengarkan mengucapkan dan selanjutnya menyusun kalimat yang benar.
Yuki menuturkan karena ini adalah Pendidikan Orang Dewasa (POD), Pendidikan menuju kemandirian, setelah peserta bisa menulis maka peserta dituntut untuk membiasakan mengucapkan kata – kata tersebut dalam aktivitas sehari – hari seperti ketika akan makan, memperkenalkan diri dll yang dilakukan secara terus menerus sehingga secara tidak sadar peserta akan terbiasa dan akhirnya bisa menguasainya. Tidak hanya membaca begitupun dalam berhitung. Untuk menghitung dikatakan Yuki mereka memiliki cara unik dimana dari hari pertama di asrama mereka diberi target untuk menghapal angka – angka setiap sebelum makan dan memulai sesuatu aktivitas dan hasilnya sampai hari terakhir sudah bisa menghitung hingga ribuan.(RG/PPMKP)