You are currently viewing Sebanyak 526,01gram Shabu dan 646,9 Kg Ganja di Sita BNNK Bogor

Sebanyak 526,01gram Shabu dan 646,9 Kg Ganja di Sita BNNK Bogor

Kepala BNNK Bogor, Setiabudhi Nugraha tengah memberikan keterangan pers di Halaman Kantor BNNK Bogor, Rabu (26/12). Foto : Benkz/wartapakwan.co.id

wartapakwan.co.id, CIBINONG – Dalam rentang waktu Januari hingga Desember 2018 Badan Narkotika Nasional Kota/Kabupaten (BNNK) Bogor ungkap delapan kasus narkoba dari 10 tersangka dengan barang bukti yang diamankan sebanyak 526,01 gram dan Ganja 646,9 kilo gram yang disita dari jaringan pengedar narkotika.

“BNN bekerja berdasarkan jaringan, kita tidak mengolah yang sifatnya pengecer atau yang kecil-kecil. Kalau dilihat dari prestasi memang tidak banyak karena jaringan itu sulit untuk mengungkapnya dan itulah kinerja yang kami sampaikan dan yang kami dapat dari jaringan yang berada di Kabupaten Bogor,” papar Kepala BNNK Bogor, Setiabudhi Nugraha pada wartapakwan.co.id, usai menyampaikan press confrence di halaman kantor BNNK Bogor, Jalan Segar III, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Rabu (26/12).

Hal tersebut, lanjut Budhi, merupakan bukti keseriusan aparat penegak hukum dalam melawan kejahatan narkoba, melaksanakan penegakan hukum dilapangan. Aparat BNN tidak segan-segan melakukan tindakan tegas dan terukur bahwa tembak ditempat bagi para pelaku narkoba dan hal itu merupakan komitmen hukum di Indonesia yang tegas terhadap jaringan sindikat narkoba.

Selain melakukan pemberantasan peredaran gelap narkoba, perkembangan narkotika jenis baru juga mendapatka perhatian yang serius bagi pemerintah. Pasalnya dari 739 zat narkotika jenis baru atau New Psychoactive Substances (NPS) yang dilaporkan oleh 106 negara dan teritorial sudah beredar di dunia kerap menjadi modus operandi jaringan sindikat narkoba dalam upaya menyelundupkan narkoba dalam bentuk lain dengan efek yang lebih dahsyat dari narkoba pada jenis umum.

“Dari peredaran NPS di dunia, telah di identifikasi sebanyak 68 zat NPS yang telah masuk dan beredar luas di Indonesia. Sebanyak 60 zat diantaranya telah berhasil mendapatkan ketetapan hukum melalaui Permenkes No. 41 tahun 2017 tentang perubahan penggolongan narkotika dengan ancaman hukuman yang berlaku sesuai dengan undang-undang narkotika No. 45 tahun 2019 tentang narkotika,” ujarnya.

Menurut data hasil survey yang dimiliki BNNK Bogor sejumlah wilayah rawan narkoba ring satu adalah di Kabupaten Bogor diantaranya wilayah, Puncak, Cibinong, Parung dan Citeureup. Serta usia para tersangka atau pengedar
kisaran usia 30 hingga 40 tahun.

“Sebesar 50 persen didominasi para kaum pekerja, karena market yang paling besar karena mereka mempunyai kesempatan dalam segi finansial, tingkat stress yang tinggi, gaya hidup dan lain-lain, baru pelajar dan mahasiswa.

Ia pun mengakui, jaringan atau mafia narkoba berkaitan dengan narapidana yang masih berada di lembaga pemasyarakatan (lapas) atau pun yang telah habis masa hukumannya masih melakukan transaksi pengedaran narkoba.

“Pasalnya nilai ekonominya cukup menarik, market di Indonesia khususnya di Bogor juga masih terbuka dengan lebar. Bicara tentang narkoba posisi Kabupaten Bogor sampai saat ini dari hasil penelitian berada di rangking kedua se Jawa Barat. Karena wilayah kita sangat berdekatan dengan wilayah DKI aksesnya sangat mudah untuk peredaran narkoba tersebut,” tandasnya.
(Benkz/wartapakwan.co.id)