PETANI MAGANG JEPANG MAKIN CEMERLANG

Publikasi

Batu, WARTAPAKWAN-Regenerasi petani menjadi salah satu faktor kunci untuk kemajuan dan modernisasi pertanian. Melalui regenerasi, penggarapan lahan, proses produksi, dan agrobisnis akan dijalankan oleh kaum milenial yang biasanya bekerja lebih produktif dan efisien dengan memanfaatkan teknologi.

Kian tumbuhnya minat generasi milenial yang tertarik disektor pertanian merupakan modal yang sangat besar, hal ini tentu merupakan kerja bareng semua unsur Kementerian Pertanian dalam mempercepat terwujudnya generasi milenial.

Saat ini generasi milenial bidang pertanian tak hanya sekedar bertani namun juga cerdas berwirausaha tani dengan memanfaatkan teknologi digital.

Seperti yang ditegaskan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) hidupnya pertanian adalah hidupnya bangsa termasuk generasi milenial. Hari ini kita bicara pertanian yang maju mandiri dan modern. Saat ini kita dihadapkan dengan paradigma baru, yaitu cloud digital. Punya anak milenial yang dapat hubungkan awan digital dengan pertanian maka dunia dalam genggaman.

Pada kesempatan lain Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi menyampaikan saat ini start-up pertanian semakin bertambah dan meningkat, membuktikan bahwa sektor pertanian adalah sektor yang punya peluang besar. Generasi milenial saat ini semakin cerdas dalam mencari peluang bisnis mereka yang telah terjun dan mencintai dunia pertanian akan makin menguasai bagaimana mengembangkan pertanian mulai dari hulu sampai hilirnya menjadi peluang bisnis. Apalagi ditambah dengan memanfaatkan teknologi digital akan makin menjanjikan tentunya,” tegas Dedi

 

Salah satu generasi milenilal yang memberi harapan untuk perkembangan sektor pertanian adalah

Agus Budiarto, pria kelahiran tahun 1983 didesa Mangunrejo kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. Mampu membuktikan Jatidirinya sebagai generasi yang pernah ikut program magang di Jepang tahun 2010.

 

Pria dengan 2 anak ini sarat dengan pengetahuan tentang pertanian, bayangkan budidaya padi, budidaya sapi, sayuran sudah dia jalani bahkan menjadi inspirasi tidak hanya kaum muda, kaum kolotnialpun sudah mulai melirik mengikuti teknologi yang dia kembangkan.

 

Pada saat ditemui pria cekatan ini sedang menaburkan benih padi varietas Mekongga Agus melanjutkan, ini sama adalah sistem tanam padi dengan cara ditaburkan secara langsung, salah satu dasar dikembangkannya sistem ini adalah untuk meningkatkan efisiensi produksi, terutama efisiensi dalam penggunaan tenaga kerja tanam. Cara tanam benih langsung dalam larikan tidak banyak mengubah cara budi daya yang telah berlangsung selama ini karena dalam penerapannya tetap menggunakan larikan dengan jarak antar barisan antara 22-25 cm, tergantung varietas yang ditanam. Bedanya ini hanya soal waktu saja, ini masih dalam tarap percobaan katanya, yang mana benih yang ditabur ini setelah 3 hari panen kemudian diberi herbisida dengan tujuan untuk mematikan tunas padi yang sudah dipanen. Bahkan tidak dilakukan pengolahan tanah. Dia berharap mudah-mudahan cara ini dapat mengubah pola tanam dalam semusim. Suatu keberanian yang perlu diacungi jempol 0.5 ha dia disiapkan untuk percobaan ini.

 

Sebelum mengakhiri pembicaraan, Agus sempat mengajak untuk melihat dam penampungan air yang berukuran 30 x 30 m dan akan digunakan untuk mengairi lahan yang sulit terjangkau air demikian pungkasnya.

 

Kepala Balai Pelatihan Peternakan Dr. Wasis Sarjono, S.Tp, M.Si, yang melihat secara langsung aktifitas dilapangan mengatakan

Tekad /keberanian yang kuat untuk memulai

seperti sebuah bangunan gedung yang mencakar langit, tekad kuat dan keberanian untuk memulai usaha menjadi pondasi yang perlu ditanamkan. Suatu kesalahan jika menganggap modal utama memulai usaha adalah kucuran dana yang berlimpah. Sebab, dengan tekad dan keyakinan yang kuat dalam diri, permasalahan modal dana yang terbatas pun akan terpecahkan. Buang pikiran-pikiran negatif yang melintas dalam benak manfaatkan sumber daya yang ada di sekitar untuk merintis sebuah usaha. ***