You are currently viewing Petani Ketapang Masih Tunggu Hujan Turun
Petani di Ketapang masih menunggu turunnya hujan.

Petani Ketapang Masih Tunggu Hujan Turun

Petani di Ketapang masih menunggu turunnya hujan.

Ketapang–Potensi lahan yang begitu besar di Kecamatan Matan Hilir Selatan dan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat saat ini belum optimal. Para petani setempat belum menanami lahannya, karena lebih dari satu bulan ini hujan belum juga turun. Kondisi tersebut berimbas pada angka Luas Tambah Tanam (LTT) di dua kecamatan tersebut masih minim. Hal ini terungkap saat tim LTT Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Kementerian Pertanian, yang dipimpin Kepala PPMKP, Heri Suliyanto melakukan ground checking ke Kabupaten Ketapang, 25-27 Juli lalu.
Di Matan Hilir Selatan misalnya, Juli tahun lalu menyumbang 20 persen angka LTT Kabupaten Ketapang, pada Juli ini LTT masih jauh dari harapan. Aswandi Mantri, Tani kecamatan Matan Hilir Selatan, mengatakan luas lahan di wilayahnya mencapai 9.000 Ha. Sebanyak 60 persen berpola rendeng dan gadu, sedangkan 40 persen lainnya ditanami dengan pola tanam padi – padi – bera.
Dari pola tanam tersebut, tutur Aswandi, memang para petani sedang pada periode bera, atau tidak menanam padi, sehingga angka LLT-nya masih kosong. “Di Bulan Juni kami masih panen, Juli juga, jadi sekarang masih ada yg bera, menunggu hujan,” ungkapnya.
Selain hujan yang belum turun, rata-rata petani di Matan Hilir Selatan baru selesai panen, bahkan sebagian diantaranya masih menunggu panen. Sehingga belum ada petani yang mulai menanam padi, karena menerapkan pola tanam serempak di daerah ini mengharuskan penanaman padi dilakukan secara bersamaan.
Pola tanam serempak ini diterapkan untuk menghindari terjadinya serangan hama, baik hama tikus, burung pipit maupun Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) lainnya. Selain itu, persiapan lahan untuk ditanami memakan waktu cukup lama karena adanya gambut yang tebal, sementara pemerintah melarang pembersihan gambut dengan cara dibakar.
Untuk menghindari rendahnya angka LTT di saat musim gadu (kemarau), Aswandi mengusulkan agar bantuan diberikan pada saat musim gadu, karena di musim rendeng (penghujan) petani pasti menanam. “Ada atau tidak ada bantuan, di musim rendeng petani pasti menanam, karena memang musim tanam,” tandasnya.
Aswandi juga mengajak penyuluh pertanian untuk terus melakukan pendekatan kepada petani dan kelompok tani yang wilayahnya memiliki potensi tanam untuk segera disiapkan, sehingga ketika hujan turun tinggal menebar benih. Menurutnya, memang ada beberapa desa yang memang sudah dipastikan tidak dapat menyumbang LTT pada Juli ini, diantaranya Desa Kemuning dan Kemuning Biuta. Di Desa Kemuning Biuta yang merupakan wilayah terjauh di wilayah hulu, semua petani kurang berminat menanam padi karena kondisi lahan berbukit dan berbatu.
Menurut Arif, Penyuluh Pertanian yang bertugas di Kemuning Biuta, kondisi lahan yang ada memang sangat sulit untuk diolah untuk dijadikan areal pertanaman padi. Hal itu membuat petani beralih ke tanaman jagung dan sawit. Sekitar tiga tahun sebelumnya, petani sempat mengusahakan padi gogo, namun karena hasilnya tidak memuaskan, mereka memilih tidak melanjutkan menanam padi. “Meskipun pengolahan dipaksakan, traktornya tidak mampu,” ucapnya.
Hal hampir serupa terjadi di kecamatan Muara Pawan. Perbedaanya, petani di wilayah ini sudah siap bertanam, tinggal menunggu turunnya bantuan benih. Ada potensi tanam seluas 150 Ha dengan kebutuhan benih rata-rata 40 kg per Ha. Diperkirakan pada awal Agustus sampai September, seluruh wilayah akan memasuki musim tanam seiring hujan yang diperkirakan akan mulai turun. LTT kecamatan akan mulai meningkat dan berimbas pula pada peningkatan LTT Kabupaten Ketapang.*

“Yang tidak kalah penting, kemajuan teknologi dan hasil sharing informasi itu bisa diketahui oleh masyarakat luas melalui sosialisasi kepada pelaku utama dan pelaku usaha sektor pertanian. Hal ini bisa dilakukan dengan melibatkan penyuluh pertanian dan media massa,” papar Rita.

Rita menyambut baik, keterlibatan Radio Pertanian Ciawi (RPC) sebagai media partner yang bisa langsung menyampaikan kepada masyarakat tani terkait informasi kemajuan teknologi pertanian saat ini, termasuk yang dihadirkan dalam kegiatan INAGRITECH.

RPC yang mengudara di 88,6 FM dari kawasan PPMKP Ciawi, memang menjadi salah satu media partner kegiatan tersebut. Radio yang menyiarkan program-program untuk para petani ini juga konsisten menyampaikan informasi teknologi yang mendukung peningkatan kualitas pertanian Indonesia.

Menurut Account Representative RPC, Yudi Ilyassa, pihaknya memang konsisten menyampaikan informasi yang mendukung kemajuan sektor pertanian, salah satunya terkait teknologi dan kebijakan pertanian. “Misalnya inovasi sektor pertanian, seperti hadirnya kendaraan 6WD-FA. Produk dalam negeri yang bisa menjawab perasalahan yang ada,” ucapnya.

Kendaraan 6WD-FA adalah kendaraan Pemupuk Sawit Berbasis Kendaraan Berpenggerak 6 Roda rancangan dari Fakultas Teknik Mesin dan Biosistem dari Institut Pertanian Bogor. “6WD-FA merupakan sebuah karya dari Desrial dan Raite dari FATETA-IPB. Mesin pemupuk yang dapat bermanuver lebih lincah di areal lahan berbukit, mempunyai ground pressure antara kendaraan 4 roda dan crawler, namun mempunyai kecepatan yang lebih tinggi dari kendaraan transporter jenis trek (crawler)”, ucap Cahyo, perwakilan representatif stand IPB.***