You are currently viewing Petani Jabar Diguyur Saprodi Rp 80 Miliar

Petani Jabar Diguyur Saprodi Rp 80 Miliar

wartapakwan.co.id, SUKABUMI – Sektor pertanian mendapat perhatian khusus dari Presiden Joko Widodo. Melalui Kementrian Pertanian, pemerintah mengucurkan bantuan berupa sarana produksi pertanian (Saprodi) sebesar Rp 80 miliar bagi para petani di Jawa Barat, tepatnya di Sukabumi.

Bantuan Saprodi diserahkan langsung Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman di Pusat Pengembangan Dakwah Islam (Pusbangdai) Cikembang, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (21/2/2019).

Bantuan terdiri dari bibit, pupuk, mesin traktor, mesin hearing jagung, bibit ayam pedaging/petelur, kambing, sapi dan bantuan lainnya. Bantuan tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sekitar Rp 40 miliar.

“Bukan hanya mengucurkan bantuan Saprodi, saya juga ingin mengubah stigma masyarakat agar tidak malu dalam bertani, khususnya kaum milenial. Karena, bertani untuk menjaga ketahangan pangan nasional. Negara yang berdaulat adalah negara yang menjaga kestabilan ketahangan pangan,” kata Mentan.

Mentan mengajak masyarakat untuk bergerak di sektor pertanian, dari tradisional bertransformasi ke pertanian modern. Terlebih, saat ini menghadapi dunia industri 4.0.

“Makanya, kita dorong menggunakan teknologi supaya bisa bersaing dengan negara lain,” tegasnya.

Terkait kinerja Pemkab Sukabumi dalam sektor pertanian, Mentan sangat mengapresiasinya karena sudah bisa surplus beras dan pengekspor buah manggis. Kendati demikian, Mentan mengingatkan agar petani Sukabumi mulai menanam jagung.

“Indonesia masih kekurangan stok jagung. Untuk menjaga kesetabilan jagung, kita masih impor dari negara lain. Tapi di sektor pertanian lain Indonesia sudah menjadi negara pengekspor. Makanya, untuk mengurangi impor petani harus mulai mau menanam jagung, dan kita pun mendukung memberikan bantuannya,” ujarnya.

Bupati Sukabumi, Marwan Hamami menuturkan kebijakan Pemkab itu kini diubah dari sektor industri ke pertanian. Maka itu, ke depannya perubahan tata ruang fokus terhadap sektor pertanian, peternakan dan perikanan dan pariwisata.

Sektor industri tidak ditinggalkan, tapi lambat laun kita alihkan ke sektor pertanian, Prosesnya akan berlangsung lama karena mengolah tanah secara profesional untuk meningkatkan kesejahteraan,” ungkapnya.

Lahan di wilayahnya, sebut Marwan, sebagian besar Hak Guna Usaha (HGU) dan mati. Sehingga kebijakan tata ruang difokuskan ke sektor pertanian, agar lahan tersebut bisa bermanfaat.

“Nantinya hasil dari pertanian tersebut masyarakat diberikan pengarahan agar bisa mengolah hasil pertanian itu menjadi komoditi tertentu yang berkesinambungan. Kita akan mengubah pola pikir generasi milenial agar mau bertani. Karena dengan bertani idealnya petani hebat, Sukabumi kuat,” tukasnya. (*)