You are currently viewing Penerapan Teknik Budidaya Yang Baik Petani Ubi Ungu Cipeucang Berbuah Manis

Penerapan Teknik Budidaya Yang Baik Petani Ubi Ungu Cipeucang Berbuah Manis

 

Pandeglang : Penerapan teknik budidaya yang baik oleh Petani ubi ungu di Desa Curug Barang Kecamatan Cipeucang Kabupaten Pandeglang Banten berbuah manis.

H. Muhammad Rosihan Anwar Ketua gabungan kelompok tani (Gapoktan) Curug Barang Indah desa Curug Barang mengatakan pada panen kedua musim tanam tahun ini, hasil panen ubi ungu gapoktannya meningkat.. Bila Panen sebelumnya menghasilkan 5 – 10 ton/ha, panen kedua ini menghasilkan 10 – 25 ton/ha.

“ Bersyukur, panen ubi ungu pada panen kedua ini hasilnya meningkat. Per batang bisa menghasilkan 1 – 1,5 kg, sehingga satu hektar bisa 10 – 25 ton “ ucapnya.

Rosihan Anwar mengatakan pada tanam kedua ini relatif tidak menemukan kendala, selain ada sedikit penurunan harga. Namun dengan hasil ini Ia bersama kelompok yakin pendapatannya akan meningkatkan ekonominya.

Koordinator Model BPP Kostratani Kecamatan Cipeucang Yoyoh Rachmatunnisa menjelaskan hasil yang baik diperoleh petani karena teknik budidaya yang semakin baik. Sehingga serangan hama bisa dikendalikan Sementara musim sebelumnya ada serangan lanas pada ubi

“ Pada musim yang lalu kebetulan musim kemarau, biasanya hama lanas banyak menyerang di musim kemarau. Musim ini Alhamdulillah tidak, “ ujarnya.

Selama empat bulan, gapoktan Curug Barang Indah menanam ubi ungu di lahan seluas tiga hektar. Dan baru dipanen dua hektar. Dalam proses penanaman hingga panen, gapoktan didampingi Penyuluh dari model Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Kostratani Kecamatan Cipeucang.

Yoyoh menuturkan untuk menghindarkan tanaman ubi ungu dari lanas, dimulai dari pemilihan bibit yang baik, sanitasi lahan dan pembumbunan guludan agar guludan tidak merekah. Tanah yang merekah disukai hama lanas (boleng)

Mengenai umur panen menurutnya untuk hasil maksimal sebaiknya ubi ungu dipanen setelah umur empat bulan.

Dalam gerakan pencanangan diversifikasi pangan, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menyampaikan diversifikasi pangan harus dimulai dengan membangun mindset bahwa kenyang tidak harus makan nasi. Penguatan pangan lokal sangat penting mengingat sektor pertanian khususnya subsektor tanaman pangan saat ini menjadi pengungkit utama pertumbuhan perekonomian.

Hal senada diungkapkan Dedi Nursyamsi Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian. Katanya pangan lokal berkaitan erat dengan budaya lokal. Pangan lokal Indonesia kaya karbohidrat dan bisa menjadi pengganti beras. Jenisnya banyak ada ubi kayu, ubi jalar, pisang, jagung, labu kuning, sukun, ganyong, sagu, gembili, empon-empon, umbi garut, talas, gadung, dan masih banyak lagi. Pangan lokal ini yang harus dikembangkan terus.(Regi/PPMKP)