You are currently viewing Lahan Sempit, Petani Cilegon Tanam Padi Dengan Teknologi Hidroganik

Lahan Sempit, Petani Cilegon Tanam Padi Dengan Teknologi Hidroganik

 

Cilegon : Lahan pertanian yang sempit tidak menyurutkan semangat bertani Muharoni dari Kelompok Tani Sondol Jaya kelurahan Taman Baru Kecamatan Citangkil Kota Cilegon Banten. Mendapat bantuan sarana dari Pemerintah Provinsi Banten pada 2020, di lahan berukuran 2 x 20m2 miliknya Ia bertanam padi dengan menerapkan teknologi hidroganik.

“ Bantuan ini sebagai contoh bagi warga untuk bisa bertanam di lahan sempit. Dengan bimbingan penyuluh setempat saya memulai teknologi hidroganik dengan menanam padi dan beternak lele,” ungkap Muharoni, Jum’at (5/2/2021).

Dilahannya Muharoni menanam padi secara hidroponik. 480 lubang dengan jarak tanam 25 cm Ia tanami padi varietas Ciherang dan beternak lele dibawah padi yang ditanamnya. Untuk lele Ia membuat kolam dari terpal dengan ukuran yang sama dengan lahan tanaman padi.

Teknologi hidroganik adalah sistem budidaya yang memadukan sistem hidroponik dan tanpa bahan kimia (organik). Perpaduan keduanya menghasilkan suatu sistem di mana budidaya tanaman dilakukan tanpa media tanah dan menggunakan pupuk organik alami yang berasal dari hewan, umumnya dari kotoran ikan yang mengalir bersamaan dengan aliran air kolam melalui pipa-pipa, bisa juga ditambahkan dengan pupuk kompos atau pupuk kandang.

Bertanam dengan teknologi ini dirasakannya lebih mudah karena padi tak butuh perawatan ekstra, tak perlu pupuk. Pertumbuhan padi maupun lele lebih cepat.

Untuk menghemat biaya pakan lele, Ia menggunakan pakan organik yang Ia buat sendiri memanfaatkan sayuran yang tidak terjual dan keong.

“ Pakan lele saya buat sendiri dari sisa sayuran sayuran yang tidak habis terjual apapun sayurannya dan keong,” ungkap Muharoni.

 

Kata Dia teknologi hidroganik, seperti tanaman tumpang sari. Ketika panen padi berbarengan dengan panen lele. Tanaman padinya kini sudah berhasil dipanen begitu pula ikan lelenya.

Hasil memuaskan yang diperoleh dari teknologi hidroganik ini membuatnya berencana mengembangkan pertanaman dengan skala yang lebih luas.

Shofi Nur Prihatin Penyuluh Dinas Ketahanan Pangan Kota Cilegon Banten mengatakan pada dasarnya hidroganik sama saja dengan hidroponik sayuran (aquaponik). Hanya saja sayuran diganti dengan tanaman pangan (padi). Menurut Shofi semua jenis padi bisa ditanam dengan cara ini, umur panen sama dengan padi yang ditanam konvensional dilahan yakni tiga bulan. Padi seperti biasa disemai dahulu baru dipindahkan. Dibawahnya disebar ikan. Nutrisi padi diperoleh dari kotoran ikan melalui sirkulasi tersebut.

“ Untuk menekan pengeluaran, keluarga bisa memanfaatkan lahan sempit dengan penggunaan inovasi teknologi. Pemenuhan gizi keluarga pun bisa dipasok dari tanaman hasil budidaya sendiri lebih aman dan bergizi, “ tuturnya.

Hal senada pernah diungkapkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Kata Mentan pertanian perkotaan (urban farming) melalui budi daya tanaman sistem hidroponik dan sejenisnya selain menambah pendapatan juga mendukung ketahanan pangan.

Tren warga kota yang kini gemar bertani dengan teknologi hidroponik juga mendapat perhatian Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi. Dedi berujar tren ini bisa menjadi momentum yang harus dimanfaatkan penyuluh untuk mendampingi ‘petani kota’. Kata Dedi dengan teknologi hidroponik membuat bertani lebih mudah. Tidak harus punya lahan. Tanpa lahan pun, masyarakat terutama warga perkotaan dapat menanam sayuran di teras, halaman atau dinding rumah.(Regi/PPMKP).