You are currently viewing Lahan Sawah Berkurang, DPR RI Himbau Petani Tak Jual Sawah

Lahan Sawah Berkurang, DPR RI Himbau Petani Tak Jual Sawah

Purwakarta : Berkurangnya lahan sawah karena dijual petani menimbulkan keprihatinan. Untuk itu Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi menyerukan kepada petani agar tidak menjual sawahnya hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumtif.

“ Uang cepat habisnya. Berapapun jumlahnya. Tapi tanah tidak akan ada habisnya. Untuk itu kalau punya sawah jangan dijual, “ serunya, Sabtu (6/3/2021).

Dihadapan petani dan penyuluh peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi Petani dan Penyuluh wilayah koordinasi Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi Bogor di Purwakarta Jawa Barat, Dedi menyampaikan salah satu penyebab lahan sawah dijual dan beralih fungsi ke non pertanian adalah berubahnya pola pertanian. Perubahan ini telah merubah mindset petani.

“ Pola pertanian kita sekarang berubah dari pola pertanian yang berbasis budaya dan lingkungan dirubah ke pola berbasis bisnis, saya kurang setuju karena ini merubah mindset orang, “ ujarnya.

Perubahan mindset ini membuat petani yang biasanya hidup tentram dan damai kini lebih banyak pusing dikarenakan banyak hutang. Konsumerisme telah membuat petani kehilangan pendaringan (tempat beras). Padahal ini merupakan awal dari ketahanan pangan keluarga.

Dengan menerapkan pola pertanian berbasis budaya dan lingkungan petani didesa tak perlu bingung dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi karena semua tersedia baik itu beras maupun lauk pauknya.

“ Menanam padi sambil memelihara ayam, domba/kambing, ikan ini pola pertanian berbasis budaya dan lingkungan, “ ujarnya.

Disisi lain saat ini petani menghadapi persoalan mahalnya biaya produksi yang disebabkan oleh pupuk, biaya obat – obatan dan mahalnya biaya tenaga kerja.

Selain itu kondisi tanah yang sudah jenuh berimbas pada kesuburan tanah sehingga menurunkan produksi. Disinilah tugas berat pemerintah yang harus segera menyiapkan solusi.

Untuk menghadapi kejenuhan tanah, Dedi mengajak petani untuk merubah sedikit demi sedikit merubah pola pertanian dari pertanian pestisida ke pertanian organik agar tanah terselamatkan. Pertanian yang terpadu dan bersinergi dengan peternakan, perikanan.

Iapun mengusulkan agar petani makmur hendaknya petani dibekali dengan domba dan sapi serta meningkatkan pendidikan keluarga agar seluruh keluarga menjadi produktif. Jika keluarga produktif maka pertanian, peternakan akan kuat dengan pertanian berbasis peternakan, perikanan dan kehutanan. Petani dikatakan Dedi adalah yang paling kuat menghadapi Covid 19.

Sebagai upaya untuk memfasilitasi pembangunan pertanian di perdesaan, Kementerian Pertanian memiliki sejumlah program yang bisa disinergikan dengan kegiatan pembangunan desa, salah satunya food estate. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyebutkan pemerintah saat ini sedang membangun food estate di sejumlah wilayah. Dengan mengedepankan konsep kawasan pertanian terpadu.

Untuk merubah perilaku petani, penyuluh lapangan menjadi andalan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP). Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi menegaskan penyuluh harus bisa mengambil hati petani, agar mau bersama-sama memajukan pertanian. Kata Dedi, SDM merupakan faktor terbesar untuk meningkatkan produktivitas pertanian. (Regi/PPMKP)