You are currently viewing Kelompok Wanita Tani Pandeglang Lahirkan Beras Analog Talas Beneng 

Kelompok Wanita Tani Pandeglang Lahirkan Beras Analog Talas Beneng 

 

Ciawi Bogor – PPMKP : Kabupaten Pandeglang provinsi Banten kini memiliki beras analog dari talas beneng.

Beras analog adalah beras tiruan yang dibentuk mirip seperti beras padi. Beras ini diciptakan Kelompok Wanita Tani (KWT) Bumi Pangan Lokal di Kecamatan Cipeucang Kabupaten Pandeglang.

Yoyoh Rachmatunissa penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani) Kecamatan Cipeucang mengatakan beras analog berbahan dasar talas beneng ini berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai pangan alternatif. Menurutnya karakteristik beras analog ini diharapkan dapat diterima masyarakat karena memiliki bentuk dan rasa yang mirip beras.

“ Masyarakat tidak perlu mengubah pola makan karena cara konsumsi beras analog sama seperti beras yang berasal dari padi,” tutur Yoyoh, dalam dialog virtual diacara Ngopi Tani yang disiarkan Radio Pertanian Ciawi (RPC), Rabu (20/01/2021).

Cara memasaknyapun sederhana. Berasnya di ciprati air, lalu dikukus dua kali hingga matang (empuk).

“ Beras diciprati air, seperti di aron. Kemudian dikukus selama kurang lebih 10 menit.. Dikasih air lagi dua kali lipat dari yang awal, kukus lagi hingga matang ( empuk), “ ungkapnya.

Proses pembuatan beras analog talas beneng terbilang mudah. Hanya mencampur tepung talas dikombinasikan dengan sagu sebagai pengikat dan dfortivikasi dengan Zinc.

Cetak adonan ke dalam mesin extruder, lalu potong dengan ukuran menyerupai beras. Keringkan beras analog di bawah sinar matahari setelah itu baru dikemas.

“ kita keringin dulu berasnya, biasanya kering hingga kadar air 13% ,baru packing, “ ujarnya.

Kandungan Zinc sebagai asupan gizi untuk mencegah stunting. Tidak hanya itu, Indeks glikemik beras analog dari talas beneng lebih rendah ketimbang nasi putih. Sehingga baik dikonsumsi untuk pengidap diabetes, dan baik juga untuk mereka yang sedang menjalani diet dan mengalami gangguan pencernaan.

” Penderita diabetes membatasi konsumsi nasi karena konon beras hiperglikemik. Sementara beras analog ini IGnya rendah, mudah dicerna dan untuk diet beras ini kaya akan serat, ” ujar Yoyoh.

Menyinggung keberlanjutan produksi beras talas ini, Yoyoh optimis bisa konsisten bahkan berkembang mengingat bahan baku talas beneng sangat melimpah karena banyak dibudidayakan petani di Kabupaten Pandeglang.

Untuk produksi saat ini masih berdasarkan pesanan. Sementara kapasitas mesin bisa memproduksi hingga 50kg per harinya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terus mendorong berbagai pangan lokal untuk menjadi pilihan dan bagian dari penyediaan pangan alternatif, untuk menurunkan konsumsi beras.

Ini adalah salah satu upaya percepatan diversifikasi pangan yang merupakan salah satu strategi penyediaan pangan di masa pandemik.

Sementara Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi, mengatakan pangan lokal adalah produk pangan yang sudah lama diproduksi dan berkembang di masyarakat. Pangan lokal terbuat dari bahan baku lokal, dengan sentuhan teknologi lokal, dan juga pengetahuan lokal. Dedi mengatakan, Setiap daerah memiliki pangan lokal sendiri-sendiri. Sehingga pangan lokal Indonesia sangat melimpah dan tersedia diseluruh tanah air.(Regi/PPMKP)