Inilah Cara P4S Al Mawaddah Buat Petani Singkong Senang

Publikasi

Sofyan Hadi, pengelola P4S Al Mawaddah Desa Honggosoco Kecamatan Jekulo Kudus.

 

Ciawi Bogor, PPMKP- Berawal dari keprihatinan akan harga singkong yang murah dan cara petani menjual singkongnya, membuat prihatin Sofyan Hadi pengelola P4S Al Mawaddah Desa Honggosoco Kecamatan Jekulo Kudus.  Keprihatinannya ini diwujudkan dengan membina para petani singkong. Hal ini diungkap Sofyan Hadi kepada Tim Reklasifikasi P4S Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP), Jumát (17/5).

Disampaikan Sofyan sebelum dibina P4Snya Petani ketika menjual singkong seperti menjual pisang sa’bonggole (dengan bonggolnya), tidak hanya itu  sebelum sampai di pabrik mereka mampir d ipencucian mobil singkongnya disemprot, agar basah dan menambah bobot.

“ Ini perbuatan curang, kenapa curang? Karena petani merasa dicurangi oleh pengusaha, “ katanya. Ia melanjutkan Cara menimbangnya juga sangat unik dan masih manual tidak menggunakan jembatan timbang.

“Uniknya, singkong satu keranjang  ditimbang beratnya 140 kilo, yang ditulis oleh pengusaha satu kwintal. Ini kan aneh, satu kwintal kok 140 kg, “ paparnya. Ternyata yang 40 kilo oleh pabrik diasumsikan sebagai kotoran, bonggol  dan tanah. Kebiasaan ini sudah terpola lama. Apalagi jika panen di musim hujan 160 kilo dihitung hanya satu kwintal ini sangat merugikan petani. “Disitulah P4S Al Mawaddah mengambil peran melakukan pembinaan kepada petani untuk meninggalkan cara-cara tersebut, petani harus jujur  yang dijual singkong bukan bonggol atau tanah” tuturnya.

Pria berlatar belakang Pendidikan agama di Kairo Mesir ini bertutur dirinya mencoba berkomunikasi dengan pabrik, dan pabrik meminta agar ia mengedukasi petani supaya melakukan sortasi sebelum menjual ke pabrik. Setelah coba dilakukan akhirnya pada tahun 2012  ketika petani panen, sortasi langsung dilakukan dilahan,  yang besar–besar naik truk kirim ke pabrik tanpa refaksi.

“Dengan cara itu, petani mendapat harga sesuai, misalnya harga 1,700 rupiah ke pabrik, diisini petani mendapat harga yang sama tanpa refaksi, sudah bersih, petani senang “ ujarnya.

Sementara untuk singkong yang ditolak karena ukurannya kecil, ia mengatakan singkong diolah disini menjadi Mocaf (modified Cassava Flour). Setiap pagi warga sekitar P4S bekerja mengupas merajang singkong kemudian dimasukkan ke bak fermentasi setelah itu dijemur dan dimasukan ke dryer untuk mendapatkan kering maksimal dengan kadar air 14% kemudian masuk alat penepung dan jadilah Mocaf.

“Tepung mocaf dari P4S ini sudah digunakan oleh pabrik–pabrik jenang untuk substitusi mencapai 20%,” jelasnya. Ia menjelaskan dengan substitusi menggunakan mocaf, biaya produksi menjadi lebih hemat, tanpa menggunakan mocaf , mereka  menggunakan 100% tepung ketan yang harganya mencapai 14,000 sampai 16,000. Sementara harga mocaf hanya 8,000 rupiah per kilo. (RG/PPMKP)