Guru Besar Senior dari IPB Menggagas Capacity Building bagi Generasi Y dan Z

Publikasi

Bogor, WP- Sesuai dengan perkembangan di era revolusi industri 4.0, Indonesia juga sudah mempersiapkan untuk memasuki era industri 5.0. Industri 4.0 menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber.

Merupakan tren otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi. Pada era ini, industri mulai menyentuh dunia virtual, membentuk konektivitas antar manusia, mesin dan data, yang dikenal dengan nama Internet of Things (IoT). Prof. Hadi S Alikodra, Guru Besar IPB dan “Tim Diskusi Ekowisata” (TDE) menyampaikan gagasan untuk diselenggarakannya diskusi intensif atau diskusi terfokus kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Topik “Capacity Building Generasi Milenial Era Industri 4.0 Lingkungan Hidup dan Kehutanan bagi Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan” direspon baik oleh Menteri LHK.

FGD yang dibuka oleh Dr. Bambang Hendroyono (Sekjen KLHK) mewakili Menteri LHK dilaksanakan secara online pada hari Sabtu, 8 Mei 2021 dihadiri oleh 58 peserta. Menghadirkan narasumber pertama, yaitu Dr. Sugeng Budiharsono dengan pemaparan tentang “Revolusi Industri 1.0 – 5.0 dan Kohor Generasi”. Dilanjutkan oleh Prof. Hadi S. Alikodra, memaparkan tentang “Capacity Building Generasi Milenial Lingkungan Hidup dan Kehutanan”, mendapat sambutan yang positif dari jajaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta peserta diskusi.

Alikodra menyampaikan bahwa komitmen pemerintah Indonesia pun baru ditunjukan dengan diluncurkannya kebijakan “Making Indonesia 4.0” oleh Presiden Joko Widodo pada awal April 2018. Sesuai misi KLHK, maka kebijakan ini harus segera ditindak lanjuti sambil mengarah ke era industri 5.0, dengan cara menyiapkan capacity building generasi milenial, di bidang lingkungan hidup dan kehutanan.

Leadership generasi milenial yang baik adalah ditunjukan oleh terpilihnya orang-orang yang cerdas, kuat, mampu dan memiliki kapasitas yang bagus.

Menjadi syarat untuk bisa membimbing dan mengarahkan anggota kelompoknya. Tujuannya adalah bagi tercapainya pembangunan berkelanjutan dengan menerapkan cara-cara yang baik dan sehat. Untuk mencapai sasaran ini perlu direncanakan program capacity building secara tepat pada kondisi era industri 4.0 sambil mempersiapkan era industri 5.0. Salah satu strateginya adalah membangun etika ekosofi bagi terbentuknya leadership yang jujur, menjaga keseimbangan, menghargai hak hidup semua makhluk dan memuliakan segala ciptaan Allah.

Berdasarkan sensus penduduk 2020, struktur penduduk Indonesia didominasi oleh Generasi-Z (27,94%) yang merupakan penduduk Indonesia yang lahir antara 1997- 2012. Sementara Generasi-Y atau kaum milenial yang terlahir antara tahun 1981-1996 pada urutan ke-2 (25,87%). Sugeng Budiharsono menekankan, justru capacity building saat ini yang utama diarahkan pada Gen-Z. Mereka akan berada pada usia 33-48 tahun saat Indonesia 100 tahun merdeka, tahun 2045. Generasi yang paling produktif saat itu.

Tanggapan disampaikan dari jajaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, antara lain Dr. Bambang Hendroyono (Sekjen KLHK), Wiratno, M.Sc (Dirjen KSDAE), dan Dr. Bambang Supriyanto (Dirjen PSKL). Bambang Hendroyono menyinggung tentang kepemimpinan transglobal generasi milenial pada era 4.0 yang merupakan pergeseran paradigma kepemimpinan dari transaksional dan transformasional. Sementara Wiratno memberi gambaran implementasi digital era di konservasi alam. Serta Bambang Supriyanto menyampaikan peran masyarakat dalam program hutan kemasyarakatan.

Selanjutnya tanggapan disampaikan dari Tim Diskusi Ekowisata, antara lain Dr. Aca Sugandhy, Aria Nagasastra, Ak. MM., MBA., MPhil, dan Prof. Hadi Susilo Arifin. Aca menyampaikan pentingnya penataan ruang dan zonasi pembangunan memasuki era industri 5.0 berkelanjutan.

Sementara Aria menjelaskan model bisnis bagi keberlanjutan dan peranan generasi milenial. Serta Hadi mengatakan, bahwa pembangunan kapasitas bagi pelaku wisata ke depan perlu diprioritaskan pada Gen-Z.

Pemahaman manajemen kolaboratif harus mampu dilaksanakan secara transdisplin dari beragam stakeholders melalui sinergi penta-helix. Hadi Susilo Arifin, Kaprodi Magister Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB, juga kordinator mata kuliah Kebijakan dan Pengelolaan Wisata Agro-Eko-Kultural menekankan elemen kunci untuk keberlanjutan sumberdaya alam agar kegiatan wisata berkelanjutan adalah pemahaman yang kuat terhadap kompleksitas daya dukung dan penghitungannya. Sedangkan untuk sumberdaya manusia adalah pentingnya pemahaman peningkatan hospitality masyarakat pelaku wisata.

Ia mencontohkan kemampuan hospitality masyarakat Bali dan Yogyakarta yang menjadi destinasi utama wisata. Hal ini tetap berlaku meski dilakukan pada virtual tourism di saat ini atau beyond pandemy Covid-19. (tjahya di ermawan)