Gunakan Metode Baru, PPMKP Kerjabareng Biro Umum Gelar PPBJ

Publikasi

Keteangan Foto : Panitia Pelatihan memantau partisipasi peserta PPBJ mengikuti materi yang disampaikan dengan e – learning.

 

Ciawi Bogor – PPMKP : Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) bekerjasama dengan Biro Umum Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) menyelenggarakan Pelatihan Pengadaan Barang/Jasa (PPBJ) Pemerintah dengan metode Blended Learning. Diawali dengan e- learning pada Kamis (26/9), kegiatan dipantau langsung dari PPMKP.

“ Blended Learning adalah model pembelajaran yang menggabungkan tatap muka(classroom) dengan e-learning/online, “ jelas Susan Twisawati Indiani Kepala Seksi Pelatihan Non RIH dan Multimedia Pertanian.

Susan menjelaskan Peraturan LKPP No 4 Tahun 2018 tentang Pelatihan PBJ, pada Pasal 20 diatur bahwa pelaksanaan pelatihan dilakukan secara tatap muka dan/atau pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi (e-learning).

“ Ini merupakan pelatihan PBJ pertama yang dilakukan oleh PPMKP dengan metode blended learning, saat in class rencananya akan ada kegiatan visitasi dari LKPP untuk penilaian akreditasi PPMKP sebagai penyelenggara PPBJ “ ucapnya.

Lebih jauh Ia sampaikan durasi pelatihan dilaksanakan 38 Jam Pembelajaran (JP), dengan rincian pembelajaran mandiri (e-learning/online) selama 7 hari, yang dilaksanakan hingga 4 Oktober, Pembelajaran tatap muka (classroom) selama 2 hari berlangsung 9 – 10 Oktober dilanjutkan dengan Ujian Sertifikasi Berbasis Komputer pada tanggal 11 Oktober

“ Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pemahaman pelaku pengadaan terhadap kebijakan pengadaan Barang/Jasa. Ini kegiatan Biro Umum, kita penyelenggara, “ Ujar

Kelebihan metode ini bagi peserta ucap Susan pelatihan lebih panjang waktunya karena dilakukan secara online dan peserta dapat mengakses kapan saja sesuai dengan waktu yang dia miliki. Selain itu kreatifitas peserta juga diuji bagaimana dia harus bisa membagi waktu antara pekerjaannya dengan saat mengerjakan tugas online dan berusaha untuk mencari koneksi internet yang stabil karena banyak asal peserta juga dari daerah yang koneksi internet tidak terlalu bagus.

“ Bahkan peserta dari Maluku yang baru saja terkena gempa tapi beliau berusaha keras untuk terus ikut pelatihan ini terutama di hari pertama peserta harus mengerjakan pretest yang diberikan waktu sampai pukul 23.55 WIB, “ terangnya.

Bagi penyelenggara pelatihan dengan metode blended ini biaya yang dikeluarkan lebih efisien.
Pelatihan diikuti 40 peserta dari Lingkup Kementan dan perangkat daerah dari Aceh sampai Papua.(RG/PPMKP)