You are currently viewing GENERASI MILENIAL LAHIRKAN TUNAS TUNAS BARU.

GENERASI MILENIAL LAHIRKAN TUNAS TUNAS BARU.

 

Tidak mudah menjadi anak petani. Apalagi jadi petani. Pakaian berlumur tanah, kulit bermasker lumpur, rambut bau matahari, dan tubuh bermandikan peluh. Itulah gambaran kasar sosok petani.

Gambaran yang jauh dari benak anak-anak milenial.

Generasi milenial adaptif terhadap teknologi, berjiwa wirausaha agribisnis, berorientasi ekspor serta menjadi agents of changes dalam pembangunan pertanian, utamanya penyebaran informasi pertanian bagi stakeholders dan modernisasi pertanian.

 

Pengembangan sistem informasi pertanian diperuntukkan bagi kepentingan penyebaran informasi baik secara internal maupun secara eksternal dengan maksud memberikan layanan terhadap informasi secara cepat, tepat, akurat dan kekinian.

 

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Prof. Dedi Nusyamsi mengajak kaum milenial Indonesia tidak gengsi untuk terjun ke dunia pertanian.

Menurut Dedi, pertanian adalah sektor prioritas dengan jumlah pintu pasar paling banyak di dunia. Sehingga peluang usaha untuk ekspor produk pertanian sangat menjanjikan.

 

Salah satu generasi milenial yang menjadi pelopor dan penggerak sektor pertanian adalah

Uus permana petani milenial yang berasal dari

Desa Cibodas Kecamatan Pasir jambu kabupaten Bandung. Alumni pelatihan Limbah 2007 di BBPP Batu.

 

Tidak pernah terbesit dalam dipikirannya bahwa Uus kecil menjadi petani saat ini masih diidentikkan dengan pekerjaan yang bergulat ke tanah, kotor, dan tinggal di desa. Stigma yang melekat pada petani sebagai orang miskin juga masih terdapat di masyarakat.

 

Apalagi, saat itu banyak fenomena anak muda lebih memilih untuk bekerja di pariwisata atau perbankan daripada menggeluti profesi menjadi petani. Akibatnya, pertanian di daerahnya menjadi tertinggal karena para anak muda merantau atau menjadi tukang ojeg.

 

Untuk itu, Uus Permana ingin memberi pesan kepada generasi milenial agar meninggalkan rasa gengsi menjadi petani.

Kembali ke alam itu buat saya luar biasa. Itu akan membangun mental kita menjadi tangguh, paling tidak banyak inspirasi yang akan kita dapat, akhirnya kita berbagi dari hasil-hasil pertanian. Yang penting sekarang hilangkan rasa gengsi jadi petani itu,” jelasnya.

 

Mengawali pembicaraannya Uus yang memiliki perawak gempal mengatakan, Alhamdulillah dulu setelah belajar pengolahan pupuk organik di BBPP Batu malang, saya langsung ngolah kompos, dari mulai 500 ton sampai pernah thn 2013 kami berhasil ngolah kompos sekaligis memasarkannya sebanyak 11.650 ton.

 

Dari keuntungan nya kita sisihkan 7% yang penggunaan anggarannya bukan hanya santunan terhadap anak yatim dan duafa juga perbaikan sarana ibadah, hitanan masal, juga yang terakhir kita beli sawah seluas 1.800 m² yang seluruh hasil padinya khusus untuk sosial.

Dari hasil kegiatan tersebut kita bisa mempekerjakan 48 orang yg terlibat langsung di gudang, dan 200 orang lagi terserap sebagai tenaga kerja harian lepas di 20 kelompok binaan. Ketika ditanya tentang kurikulum pelatihan limbah, Uus menjawab sambil tersenyum, kalau mengenai kurikulum yang pernah saya rasakan itu sudah sangat baik sekali epektip buktinya saya bisa menjalankan sampai saat ini. Hanya barangkali

berhubung ilmu itu dinamis kami mohon tidak henti-hentnya kepada bapak kepala balai biar kami dan generasi kami bisa tetep nambah ilmu sesuai dengan tuntutan jaman. Artinya karena sekarang sudah zaman IT, kami berharap teknologi ini juga menjadi rujukan buat kami. Lebihlanjut Uus berharap, bahwa dirinya mempunyai penerus yang

akan di gembleng biar jd generasi penerus saya, mengharapkan diberi kesempatan untuk dapat mengikuti pelatihan pengolahan susu karena kelompok saya lagi membuat sistandu. berbasiskan peternakan sapi perah bekerja sama dgn universitas tri sakti jakarta. Jadi ilmu olahan susu nya sangat kami butuhkan.

 

Dihubungi melalui jaringan seluler Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu Dr. Wasis Sarjono, S.Pt, M.Si, mengatakan mengenai permintaan pelatihan susu dan turunannya tentu akan menjadi prioritas, nanti pada saat pelatihan cara konvensional kemudian untuk sementara bisa saja dilakukan secara on line. Wasis juga berpesan agar generasi milenial terus mengembangkan sayap dan menciptakan generasi generasi penerus harapan bangsa, agar negara kita dengan sebutan sebagai negara agraris betul-betul dapat diwujudkan.*T2S/Wan