You are currently viewing Gelombang Kebangkitan Vanili di Kota Salatiga    

Gelombang Kebangkitan Vanili di Kota Salatiga   

Salatiga, sebuah Kota tertua kedua di Indonesia, lahir 24 Juli tahun 750 Masehi adalah kota yang sejuk dan asri. Tahun 2021 ini dinobatkan sebagai kota paling toleran nomer 1 di Indonesia. Sejarah panjang kota dengan berbagai dinamika mewarnai sikap hidup bermasyarakat.

Dengan elevasi 700 mdpl, di lereng gunung Merbabu dan memiliki hawa yang sejuk, kota Salatiga sudah jadi hunian selama 1217 tahun dengan sumber mata pencaharian utama di sektor petani dan perkebunan. Masyarakat Salatiga sudah berbudidaya vanili sejak tahun 1864 seiring penanaman vanili di Kabupaten Temanggung hasil pengembangan tanaman vanili dari Kebun Raya Bogor.

Legenda hidup petani vanili Salatiga.

Di desa Kemiri kota Salatiga sempat berdiri pabrik pengolahan vaniliterbesar di Jawa Tengah antara tahun 1900 – 1943. Karena pergolakan revolusi pabrik akhirnya tutup dan lokasi sekarang menjadi hunian masyarakat. Namun, sangat di syukuri walaupun pabrik telah tutup masih banyak perkebunan – perkebunan vanili yang konsisten yang mencintai dan merawat tanaman vanilinya. Salah satunya adalah mbah Harjo dari desa Randuacir kecamatan Argomulyo kota Salatiga.

Kondisi Terkini

Mbah Harjo adalah seorang legenda vanili Salatiga, dari kecil hingga hari ini beliau yang berusia 92 tahun masih merawat tanaman vanili di kebunnya. Tercatat sudah tiga kali penanaman ulang (replanting) untuk memperbaharui tanaman vanilinya. Mbah Harjo selama hampir 50 tahun melakukan budidaya vanili dan sudah membagikan bibit vanili ke semua orang termasuk tetangga dan teman – teman yang mau menanam vanili. Produksi vanili basah sekarang di Salatiga sekitar 1 ton/musim, dengan jumlah sekitar 1000 tanaman yang produktif. Bertahun – tahun kondisi pasar dan budidaya vanili di Salatiga adem dan dingin cenderung tidak ada pergerakan sama sekali, ditambah lagi dengan karakteristik petani vanili yang cenderung menyembunyikan tanaman vanilinya dengan berbagai alasan sehingga tidak ada data tentang produksi tanaman vanili atau lebih tepatnya para petani vanili ini tidak mau di data.

Gelombang Kejut

Pada bulan November 2019 ibu Nunuk Dartini, Spd., Msi diangkat sebagai Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kota Salatiga dan saat itulah dimulai pergerakan besar pasar dan budidaya vanili di Salatiga. Dengan passion dan hati yang tulus, ibu Nunuk tampil sebagai panglima yang memimpin semua staf dan PPL untuk menggerakkan seluruh elemen dan lapisan masyarakat untuk menanam vanili dengan beberapa program dan terobosan – terobosan yang gemilang. Bantuan demi bantuan yang berupa materi dan support moral beliau berikan. Catatan terakhir dari data bantuan yang di berikan berupa bibit vanili sebanyak 3000 polybag untuk kelompok tani dari Asosiasi Petani Vanili Salatiga (APVS) serta bantuan sarana dan prasarana penunjang lainnya yang dapat menambah populasi tanaman vanili di Salatiga menjadi sekitar 8500 tanaman yang tercatat dan terorganisir dan 11.500 tanaman di petani mandiri di Salatiga dan sekitarnya.

Tidak sampai disitu, Dinas Pangan dan Pertanian Kota Salatiga melakukan terobosan – terobosan berupa kerjasama dengan perusahaan ekport vanili dan lembaga swasta/swadaya lainnya untuk ikut mengembangkan industri pengolahan vanili di Salatiga. Terdapat dua eksportir di Salatiga yang siap berkolaborasi dan bekerjasama untuk melaksanakan eksport vanili dari hasil panen para petani binaan. Tidak hanya itu, terdapat lembaga – lembaga pelatihan vanili yang siap menurunkan ilmu pengolahan vanili untuk meningkatkan nilai tambah dari hasil jual vanili di petani yang semula di jual basah menjadi kering. Musim panen 2020 hasil panen vanili basah mencapai 1,3 ton yang kemudian diolah menjadi vanili kering dengan berbagai grade (sesuai SNI) yang menghasilkan 500 kg all grade dan sudah habis terjual di bulan Desember. Rencananya pada bulan Mei hingga Juni akan panen kembali namun dengan kondisi musim hujan yang ekstrim ini, estimasi hasil panen turun drastis menjadi 500 kg vanili basah. Kebanyakan vanili yang sudah produksi ada di petani – petani lama yang mandiri. Maka dari itu, untuk lebih meningkatkan dan mendukung progam kota Salatiga, maka sudah ada perusahaan yang akan membangun pabrik pengolahan vanili di desa Randuacir dekat dengan kebun vanili milik mbah Harjo.

Penutup

Program demi program sudah di ciptakan Dinas Pangan dan Pertanian Kota Salatiga untuk meningkatkan mutu dan kualitas tanaman vanili yang ada di kota Salatiga. Dengan dukungan Walikota dan semua pejabat dari lintas sektoral serta dukungan dari swasta maka tidak mustahil dalam waktu dekat Salatiga akan segera meraih era keemasan dan masa kejayaan vanili kembali. (Humas)