Dibuang Kabupaten Bogor, Pascal Persembahkan Emas untuk Timnas

Publikasi

PENAMPILAN heroic Nizar Zulfikar dan kawan-kawan mengakhiri paceklik gelar Timnas Bola Voli Indonesia. Penantian panjang selama satu dekade di ajang SEA Games berakhir sudah, dan Philsport Arena, Manila, Filipina pada Selasa (10/12/2019) menjadi saksi kejayaan tim putra Indonesia  yang sukses membungkam tim tuan rumah Filipina, 3-0 (25-21, 27-25 dan 25-17).

Selain perjuangan spartan para pemain, ada dua sosok di balik sukses Timnas Bola Voli Putra Indonesia menyabet medali emas di SEA Games 2019, yaitu Liu Qiujiang, pelatih asal China, dan sang asisten pelatih, Pascal Wilmar.

Dihubungi wartapakwan via whatsApp, Pascal mengaku bangga menjadi bagian dari Timnas Indonesia yang sukses merebut medali emas SEA Games Filipina 2019. “Dulu, saya raih emas sebagai pemain. Sekarang, sebagai asisten pelatih. Saya sangat bangga sekali, ini adalah kehormatan bagi saya,” ujarnya.

Pascal Wilmar Picaulima bukan sosok sembarangan. Di era 90’an, pria berdarah Belanda-Ambon ini adalah salah satu spiker terbaik timnas bola voli Indonesia. Di tahun 1993, Pascal Wilmar dkk berhasil mempersembahkan medali emas bola voli SEA Games Singapura dengan mengalahkan Timnas Thailand. Masih di tahun 1993, Pascal ikut andil mempersembahkan medali emas bagi Tim Voli DKI di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 1993.

Ringkasnya, sepakterjang Pascal baik di timnas maupun di klub bersama Pelita Jaya Sawangan dan Bimantara, tidak diragukan lagi. Sejumlah gelar sudah dia persembahkan. Setelah malang melintang mengharumkan nama Indonesia, jebolan Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan, yang bernaung di Klub Maluku ini pun memutuskan mundur sebagai pemain di tahun 2006.

Dibuang Kabupaten Bogor, Pascal Wilmar terbukti sukses menangani Timnas Bola Voli Putra Indonesia dan meraih medali emas. Foto: Istimewa/for wartapakwan.co.id

Usai mundur, Pascal sempat beralih bekerja di sektor lain alias non-bola voli. Namun, dia tak bisa jauh dari bola voli. Di tahun 2013, Pascal memutuskan untuk kembali bergelut di cabor yang sudah membesarkan namanya ini. Tentunya, sebagai pelatih. Di tahun inilah, dimediasi kenalannya, salah seorang wartawan olahraga senior di Bogor, Pascal berkesempatan melatih para bibit muda di Kabupaten Bogor.

Nama besarnya sebagai pemain, menurut Pascal, bukan jaminan dia langsung diterima sebagai pelatih. “Ada anggapan, pemain bagus belum tentu jadi pelatih yang bagus. Ya di tes dulu lah waktu itu,” kenang pemain Indonesia pertama yang memperkuat klub profesional di luar negeri itu.

Petinggi olahraga di Kabupaten Bogor waktu itu rupanya hanya setengah hati. Pascal pun di depak. Dia hanya setahun menangani anak-anak muda Kabupaten Bogor. Padahal, proses pembinaan usia muda dan pelajar membutuhkan waktu. Sosok pengalaman Pascal sejatinya adalah berkah untuk talenta muda Tegar Beriman.

Namun, entah apa sebabnya Pascal Wilmar di depak. Akan tetapi, kondisi ini justru memberikan hikmah.  Selepas itu, selang beberapa waktu, Pascal Wilmar mendapat kepercayaan untuk menangani Timnas Bola Voli Indonesia bersama Liu Qiujiang, pelatih asal China. Kepercayaan besar ini pun dijawabnya dengan prestasi. Ya, bersama Mr Liu, Pascal ikut andil mempersiapkan Nizar Zulfikar dan kawan-kawan menjadi tim yang superior pada SEA Games 2019 ini. Betapa tidak, dari mulai penyisihan hingga menekuk Filipina di grand final, Timnas Bola Voli Indonesia tidak pernah kehilangan satu set pun. BRAVO INDONESIA! BRAVO PASCAL WILMAR! (tjahyadi ermawan/wartapakwan.co.id)