Dedi Nursyamsi Panen Labu Madu di BPP Kostratani Pandeglang

Publikasi

 

Pandeglang : Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi melakukan kunjungan ke Kabupaten Pandeglang, Rabu 5/8). Selain untuk meninjau langsung kesiapan BPP Mandalawangi dan BPP Cipeucang menjadi Kostratani, juga sebagai upaya memberikan motivasi bagi penyuluh pertanian.

Didampingi Kepala Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Yusral Tahir dan Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Idha Arshanti, Dedi Nursyamsi menegaskan untuk mengawal proses transformasi BPP Mandalawangi menjadi Model BPP Kostratani, BPPSDMP bersama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dan Badan Karantina Pertanian (Barantan) all out melakukan pengawalan dan pendampingan agar Model BPP Kostratani ini menjadi benchmark bagi BPP lain yang akan bertransformasi menjadi BPP Kostratani.

Hal ini untuk memperkuat komitmen Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang akan terus meningkatkan peran Kostratani untuk mengimplementasikan program-program Kementerian Pertanian karena kegiatannya langsung bersinggungan dengan petani di lapangan. Di Kostratani ini juga petani bisa mendapatkan informasi atau mendapatkan penyuluhan agar hasil pertaniannya lebih maksimal.

 

Mengunjungi BPP Cipeucang Dedi Nursyamsi menyempatkan diri memanen waluh (labu madu) yang ditanam di pekarangan sekitar lokasi BPP.

Saat memanen Ia berpesan agar terus mengembangkan potensi lokal yang ada sehingga bisa mengangkat ekonomi petani.

Yoyoh Rachmatunnisa Koordinator BPP Cipeucang menuturkan labu madu adalah salah satu potensi lokal yg ada di kecamatan Cipeucang. Selain di tanam di lahan demplot BPP Cipeucang, sekarang sedang di kembangkan (ditanam) di kelompok tani

“ Ada sekitar 3000 batang yang sedang dikembangkan di kelompok tani dengan potensi per batang 4 – 6 kg, “ ungkapnya.

Menurut Yoyoh permintaan pasar labu madu cukup bagus. Hanya saja produksi belum dapat memenuhi kebutuhan pasar, karena masih jarang yang tanam. Petani menjual hasil panen ke pasar modern, supermarket, di Tangerang dan Cianjur. Sementara untuk pasar lokal dijual langsung ke monsumen. Harga jual di tingkat petani rata rata 13 – 15 ribu rupiah perkilo tergantung pasar dan harga eceran tingkat konsumen 20 – 40 ribu per kg.

Kata Yoyoh labu madu bisa dipanen apabila tanaman sudah memasuki umur sekitar 85-90 hari. Ciri-ciri buah labu madu yang sudah siap panen biasanya memiliki tangkai buah bagian pangkal yang telah berubah warna dari hijau menjadi kecokelatan. Warna buahnya pun sudah mulai berwarna coklat mengkilap. Kriteria lain juga dapat dicek dengan cara memukul buahnya. Labu madu yang sudah matang biasanya buahnya akan berbunyi berdenting saat dipukul.

Labu madu atau dikenal juga dengan sebutan Butternut squash (Cucurbita moschata) atau sebenarnya adalah jenis labu yang menyimpan cukup banyak manfaat. Dilansir dari berbagai sumber labu madu yang memiliki bentuk menyerupai bohlam ini teksturnya lembut dan memiliki rasa yang manis. Labu madu memiliki banyak manfaat diantaranya melancarkan pencernaan. makanan pendamping untuk diet karena di dalamnya memiliki kandungan serat yang cukup tinggi. Selain itu juga baik untuk mata dengan kandungan vitamin A nya. Tidak hanya itu kandungan antioksidan dalam labu madu bisa menangkal radikal bebas yang membuat daya tahan tubuh menurun. Labu madu juga kaya kandungan vitamin C untuk menangkal radikal bebas serta mengobati gejala anemia dengan kandungan zat besinya. (Regi/PPMKP)