You are currently viewing Charta Politika:  Bima-Dedie Menang Telak, Elektabilitasnya 59,8 Persen

Charta Politika: Bima-Dedie Menang Telak, Elektabilitasnya 59,8 Persen

versi charta politika

Bogor, WartaPakwan

Hasil survei Charta Politika Indonesia periode Juni 2018 menujukkan elektabilitas pasangan incumbent Bima Arya Sugiarto – Dedie A Rachim masih unggul telak 59,8 persen. Sedangkan jauh di bawahnya, pasangan Achmad Ru’yat – Zainul Mutaqin (RZ) yang memperoleh 18,0 persen. Sementara dua calon lainnya Edgar Suratman – Sefwelly Ginandjar serta Dadang Danubrata–Sugeng Teguh Santoso elektabilitasnya masih di bawah angka 5 persen.

“Dari survei kami yang terakhir pada Juni 2018 menunjukkan bahwa elektabilitas incumbent masih sangat kuat. Bahkan hampir 60 persen hasilnya. Dan hasil survei itu tidak jauh berbeda dari survei periode sebelumnya pada Maret 2018. Inkumben Bima-Dedie persentasenya masih sangat tinggi,” ungkap Manager Riset Charta Politika, Muslimin Tanja saat dihubungi di Bogor,  Selasa (26/6/2018).

Ia menambahkan, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Pemerintah Kota Bogor tergolong tinggi, yakni berada di atas 70 persen dan tersebar merata di wilayah kecamatan yang ada di Kota Bogor.

“Di atas kertas ketika survei kepuasan publik terhadap incumbent itu tinggi di atas 70 persen, biasanya cenderung akan terpilih kembali. Masyarakat sudah melihat prestasi apa yang sudah dilakukan dan merasa puas,” katanya.

Dalam survei ini, Charta Politika menghimpun sampel sebanyak 400 responden, margin of error  4.9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel dipilih sepenuhnya secara acak (probability sampling) dengan menggunakan metoda penarikan sampel acak bertingkat (multistage random sampling), dengan memperhatikan urban/rural dan proporsi antara jumlah sampel dengan jumlah penduduk di tiap kecamatan di Kota Bogor.

Muslimin menyebut, tidak mudah mengubah persepsi publik dalam waktu singkat, bahkan dengan serangan black campaign sekalipun. “Kecuali ketika tiba-tiba salah satu calon yang kuat tertangkap KPK, seperti di Subang. Elektabilitas inkumben saat itu sangat kuat tapi saat kami survei kembali langsung anjlok. Jadi kalau baru sekedar isu atau black campaign saya kira itu tidak terlalu beprengaruh. Masyarakat sudah cerdas,” jelasnya. WP-3