You are currently viewing Bimtek Petani Penyuluh Kenalkan Hay dan Silase Pada Petani 

Bimtek Petani Penyuluh Kenalkan Hay dan Silase Pada Petani 

 

Majalengka : Petani di Kabupaten Majalengka, Subang dan Sumedang diperkenalkan pada metode hay dan silase, melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi Petani Penyuluh wilayah koordinasi Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi Bogor di Kabupaten Majalengka beberapa hari lalu.

 

“ Dalam dunia peternakan dikenal istilah hay dan silase. Hay adalah rumput yang sengaja dikeringkan. Sedangkan silase adalah hijauan segar yang difermentasi, dibuat dari tanaman yang dicacah disimpan dalam silo kemudian dipadatkan untuk menghilangkan oksigen (anaerob) dan ditambahi probiotik, “ ujar Rachmat Somanjaya pakar pakan ternak ruminasia dan dosen peternakan di Universitas Majalengka, narasumber kegiatan tersebut.

Bimtek Petani Penyuluh Kenalkan Hay dan Silase Pada Petani.

Seperti diketahui Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) berkolaborasi dengan Komiisi IV DPR RI masa bakti 2019 – 2024 menyelenggarakan bimtek untuk berbagai persoalan yang dihadapi petani.

 

“ Ada anggapan bahwa silase itu harus memakai probiotik sementara yang tanpa probiotik namanya fermentasi. Ini kekeliruan, bahwasannya produknya adalah silase, prosesnya fermentasi. Baik itu pake probiotik ataupun tidak kalau proses pengawetannya secara fermentasi itu outputnya adalah silase,“ jelasnya.

Pengawetan hijauan seperti hay dan silase menjadi solusi alternatif untuk mengatasi krisis pakan ternak saat musim tertentu/kemarau. Metode pengeringan rumput atau hay sering digunakan oleh peternak kecil atau peternakan rakyat. Pengeringan dilakukan baik menggunakan teknologi menggunakan oven maupun rumah kaca atau konvensional menggunakan sinar matahari.

Dalam berusaha dibidang peternakan ruminansia, seringkali pelaku berhadapan dengan tidak tersedianya suplai pakan ternak dengan kualitas yang baik sepanjang tahun, terutama selama musim kemarau.

 

Padahal Kata Dia pengembangan peternakan apapun jenis komoditinya yang paling utama adalah ketersediaan pakan. Untuk itu Ia mengajak petani untuk menggunakan metode penyimpan pakan ternak.

 

“ Kalau kita mau beternak ruminansia atau apapun usahakan ketersediaan pakan terjamin. Bagaimana caranya? Yaitu dengan pengolahan pakan. Pakan yang ada kita olah, kita awetkan sehingga ketersediaannya tidak mengenal musim, “ ujarnya.

 

Jenis tanaman yang direkomendasikan adalah hijauan pakan sorgum dikombinasikan dengan indigofera yang sangat baik untuk ternak.

 

Materi ini mendapat apresiasi dari sejumlah petani yang hadir baik dari wilayah Majalengka maupun Subang dan Sumedang. Seperti disampaikan Iyeng Alim peternak dari Majalengka. Ia mengatakan materi silase memberikan pencerahan bahwa pakan tidak harus selalu segar, namun bisa dalam bentuk kering tanpa kehilangan nilai gizi untuk ternak.

 

Sementara Omo Karmana petani padi dari Desa Ujung Jaya Kabupaten Sumedang, menganggap bimtek sebagai ajang untuk silaturahmi dan bertukar informasi sesama petani. Mendapatkan materi membuat silase baginya merupakan pengetahuan baru. Jerami yang dihasilkan dari usaha padinya selain dapat dibuat pupuk juga dijadikan pakan ternak. Walau dirinya tak punya ternak namun disekitarnya banyak petani ternak. Hal ini bisa menjadi peluang untuk mendapatkan tambahan penghasilan.

 

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan sistem pertanian yang maju, mandiri dan modern bersumber pada SDM pertaniannya. Untuk itu sangat diperlukan penguatan kapasitas SDM pertanian diantaranya melalui bimtek.

“Pertanian yang maju, mandiri dan modern berarti kita bicara SDM. Maka perlu ada penguatan kapasitas SDM pertanian kita,” ujar Mentan SYL dalam arahannya.

Mengenai peningkatan produktivitas Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi menegaskan agen yang paling besar dalam peningkatan produktivitas adalah sumber daya manusianya.

“ Berbicara peningkatan produktivitas berarti peningkatan SDM-nya. Hal ini akan difokuskan pada penyuluhan pertanian dengan memperkuat Kostratani di kecamatan yang merupakan unsur utama dalam mendorong produktivitas pertanian.” ucapnya.(Regi/PPMKP).