You are currently viewing Beternak Puyuh, Entaskan Kemiskinan Dalam Tempo Singkat

Beternak Puyuh, Entaskan Kemiskinan Dalam Tempo Singkat

  • Post author:
  • Post category:Bisnis

wartapakwan.co.id, CIAWI – Peluang beternak puyuh di Indonesia masih terbuka lebar mengingat saat ini konglomerasi belum masuk dalam wirausaha puyuh.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Peternak Puyuh Indonesia (APPI) Slamet Wuryadi saat kunjungan Pers BPPSDMP ke Slamet Quail Farm (SQL) yang dikelolanya di Cikembar Kabupaten Sukabumi.

“Saat ini konglomerasi belum masuk dalam wirausaha puyuh, sebagian besar masih dibudidayakan oleh UKM,“ ujarnya.

Ia menjelaskan untuk mendapatkan bibit bukanlah hal sulit dikarenakan puyuh bertelur setiap hari dan setelah usianya sudah tidak produktif yakni 1,5 tahun bisa dipotong untuk dijadikan makanan olahan seperti bakso, abon dan makanan kaleng.

Ia mengakui dengan modal Rp. 200 menurutnya dapat dijual Rp. 280 per butir. Selain itu keuntungannya pun sangat tinggi sementara suplai masih kurang sehingga hanya dalam tempo yang singkat yakni 45 hari sudah bisa mengentaskan kemiskinan.

“Dari telur puyuh dengan berat 12 gram, dalam 17 hari akan lahir anak puyuh dan 45 hari kemudian puyuh bertelur ,” jelasnya.

Hingga saat ini, lanjut Slamet, permintaan mencapai 12,5 juta butir dan suplai baru di angka 3,5 juta butir berarti ada kekurangan sebanyak sembilan juta butir per minggu untuk Jawa Barat, DKI dan provinsi Banten.

Pria kelahiran Jepara 8 Juli 1971 ini menambahkan sistem pembayaran dalam penjualannya pun selalu dibayar tunai/cash. Dan lahan yang dibutuhkan untuk ternak puyuh sangatlah minim demikian pula dengan waktu kerja, satu orang operator bisa mengurus 5000 ekor dengan waktu hanya 4 jam per hari. Resiko penyakit pada puyuh juga terbilang kecil, sehingga bisa menghemat biaya obat – obatan.

Disinggung mengenai potensi pendapatan lain dari beternak puyuh Slamet menjelaskan limbah kotoran puyuh bisa dimanfaatkan sebagai pupuk dan pakan ikan. Selain itu sekarang sudah diuji coba dimanfaatkan sebagai biogas.

“Sudah diuji coba, sebongkah kotoran puyuh bisa menyalakan lampu 100 watt, “ katanya.(RG/PPMKP)