You are currently viewing Berkat Daun Singkong KWT Cengek Cilegon Raup Omzet 40 Juta per Bulan

Berkat Daun Singkong KWT Cengek Cilegon Raup Omzet 40 Juta per Bulan

 

Cilegon : Keterampilan Kelompok Wanita Tani (KWT ) Cengek Lingkungan Kapu Denok Julalen Kecamatan Citangkil Kota Cilegon Banten mengolah daun singkong menjadi keripik, meraup omzet hingga Rp. 40 Juta per bulan. Hal ini sangat membantu kelompok dan meningkatkan perekonomian keluarga anggota.

Siti Hasanah Ketua KWT Cengek mengatakan keripik ini dikemas dan dinamai Hanna Koe. Harganya Rp 15.000 per bungkus ukuran 125 gram dengan tiga varian rasa, original paru, rasa rendang dan pedas. Selain pasar lokal produk ini bahkan sudah dipasarkan keluar negeri melalui pihak yang membantu memasarkan atau dibawa sebagai oleh – oleh warga yang memiliki kerabat di luar negeri. Dan kini ada pula perusahaan yang mengajak kerja sama untuk ekspor.

“ Kami bisa memproduksi 50 – 100 kilogram kripik paru daun singkong per bulannya. Pemasaran sudah masuk supermarket di Jakarta dan mini market, “ ujarnya Jum’at (09/04/2021).

Mengolah sejak tahun 2012, Siti Hasanah mengaku ide mengolah daun singkong menjadi camilan renyah dan gurih menggugah selera, serta bernilai ekonomi tinggi berawal dari banyaknya petani didaerahnya yang membudidayakan singkong.

 

“ Selama ini daun singkong biasanya hanya digunakan sebagai bahan sayuran atau lalapan yang tidak semua orang suka, terutama anak – anak. Padahal didaun singkong banyak kandungan gizinya, “ tuturnya.

Selain daun singkong sebagai bahan utama bahan lain yang digunakan terbilang sederhana seperti telur, tepung mocaf (Modified Cassava Flour), minyak nabati, garam dan rempah-rempah. Cara membuatnya pun tidak sulit.

“ Bahan kripik ini campuran daun singkong, telor, tepung mocaf. Bahan baku mocaf nya diperoleh dari Pandeglang, “ katanya.

Keripik

Selain anggota KWT, kelompok ini memberdayakan masyarakat sekitar sebagai tenaga kerja. Bahkan kini sudah mampu mendatangkan ahli masak untuk menjaga kualitas rasa dan kualitas produk.

Mengacu pada instruksi Presiden RI Joko Widodo bahwa pertanian Indonesia ke depan harus berbasis korporasi selaku korporasi petani yang dikelola dengan manajemen profesional. Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo dalam beberapa kesempatan menyampaikan pengembangan korporasi ke depan akan diperluas dimensinya. Sehingga tidak hanya mengelola seluruh rantai produksi usaha tani dengan teknologi modern, pengolahan, budidaya, pasca panen dan pemasaran. Juga hingga mampu menciptakan produk turunan dari komoditas yang ada.

“ Korporasi petani juga ditargetkan berimplikasi pada penumbuhan semangat generasi milenial untuk terjun memajukan sektor pertanian yang inovatif dan berdaya saing, “ ucap Mentan.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi mengajak petani di seluruh Indonesia jangan lagi menjual hasil panen mentahan.

“ Proses dahulu menjadi produk olahan bernilai tambah, sehingga petani meraih laba setelah dilepas ke pasaran, “ ucapnya.(Regi/PPMKP)