Bedah Strategi Pencapaian LTT Muba dan Muratara

Featured Galleries Publikasi

Ciawi–Untuk memenuhi ketersediaan beras secara nasional, pemerintah telah menargetkan Luas Tambah Tanam (LTT) secara nasional. Hingga Oktober ini, LTT dipatok di angka 2,5 juta hektare. Angka tersebut dianggap rasional mengingat potensi tanam mencapai 5 juta hektare. Hal tersebut diungkapkan Devi Setiabakti, Kepala Bagian evaluasi Yanrek Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian saat menyampaikan materi Strategi Pencapaian Target LTT dalam Pelatihan Manajemen Kelembagaan Mendukung UPSUS, di Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi, Bogor, Rabu (16/10).

Untuk Provinsi Sumatera Selatan, Devi menngatakan mendapat target LTT seluas 180 ribu hektare. “Jika melihat target tersebut, di pertengahan Oktober ini seharusnya pencapaian LTT Sumsel sudah berada di angka 80 ribu hingga 90 ribu hektare,” ucapnya.

Agar target LTT padi tersebut sejalan dengan komoditas jagung dan kedelai yang juga ditargetkan mengalami peningkatan dalam program Upsus, Devi menyarankan untuk mengintesifkan tumpang sari. Pola tumpang sari padi-jagung, padi-kedelai, jagung-kedelai, bisa meningkatkan produksi ketiga komoditas tersebut secara sejalan.

“Ini dilakukan untuk menghindarkan menurunnya LTT tanaman padi ketika musim kemarau. Saat petani bertanam jagung atau kedelai, pola tumpang sari ini membuat padi tetap bisa dibudidayakan,” paparnya.

Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah akan menambah jumlah bantuan benih. “Yang tadinya membutuhkan benih 25 kg maka akan ditambah menjadi 50 kg. Demikian juga dengan jagung dan kedelai. Ini agar provitasnya sama dengan satu hektare, meskipun ditanam tumpang sari,” tambahnya.

Upaya lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengoptimalkan penanaman padi gogo. Selain di lahan kering, penanaman padi gogo juga bisa dilakukan di lahan sawah, yakni menjelang musim kemarau setelah panen padi. Hal yang sama juga dilakukan di lahan rawa pasang surut. dan padi gogo lahan kering.

Di wilayah Sumatera Selatan, khususnya Musirawas Utara dan Musi Banyuasin, banyaknya rawa lebak dan pasang surut sangat potensial untuk dimanfaatkan dalam mendukung LTT. Manjemen pengelolaan air menjadi salah satu kunci budidaya padi di lahan tersebut. Penerapan teknologi budidaya jenuh air, yaitu mengatur air masuk dan keluar, menjadi salah satu pilihan teknologi pemanfaatan lahan rawa di Sumsel.

Sementara itu, Kepala PPMKP, Heri Suliyanto mengungkapkan kegiatan Pelatihan Manajemen Kelembagaan Mendukung Upsus tersebut merupakan upaya peningkatan kompetensi petugas di lapangan untuk mencapai terget yang telah ditetapkan Pemerintah. Kegiatan tersebut juga merupakan wujud apresiasi atas upaya keras para pengelola Upsus di wilayah Sumsel.

“Inilah wujud apresiasi kami kepada penanggung jawab Upsus lapangan yang sudah berperan aktif dalam pelaporan LTT setiap harinya,“ ungkap Heri.

Pelatihan Manajemen Kelembagaan Mendukung Upsus (UPSUS) peningkatan luas tambah tanam padi diselenggarakan dari tanggal 15-20 Oktober. Diikuti 30 orang penanggung jawab UPSUS di lapangan yang berasal Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) Provinsi Sumatera Selatan.

Kegiatan yang bertujuan meningkatkan peran kelembagaan penyuluhan tingkat Kecamatan dalam mendukung Upsus ini menghadirkan narasumber dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Ditjen Tanaman Pangan, Pusat Data dan Informasi Pertanian (Pusdatin) serta PPMKP.

Selain kegiatan di kelas, peserta juga melakukan kunjungan untuk menggali informasi tentang produksi benih padi di Sang Hyang Sri, Sukamandi, BB Peramalan OPT Jatisari Subang, dan Balai Penelitian Hirologi dan Agroklimat Cimanggu Bogor. (*)