You are currently viewing Barudak Huhujanan, Pak Sekdis Dipayungan

Barudak Huhujanan, Pak Sekdis Dipayungan

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bogor mengenakan jas hujan plastik dan payung. Sementara banyak siswa sekolah dasar yang lebih memilih huhujanan. Foto: tjahyadi wartapakwan | foto sekdis: istimewa BN.

SELALU ada sisi lain dari suatu peristiwa. Begitu juga dengan momen kunjungan kenegaraan dari Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Alsaud di Istana Bogor, Rabu (1/3) 2017.

Dari sudut hubungan bilateral antar dua negara bersahabat, adalah suatu kehormatan bagi Indonesia menyambut kehadiran pemimpin Arab Saudi, Raja Salman bin Abdulaziz Alsaud. Terlebih sang raja hadir dengan didampingi 25 pangeran, dan para menteri. Bila ditotal tercatat 1.500 delegasi Arab Saudi yang mengiringi lawatan sang raja, 1 sampai 9 Maret 2017 di Indonesia.

Konon, sang raja datang dengan membawa total dana 300-an triliun untuk investasi di Indonesia. Wajar jika suka cita menyambut kehadiran King Salman. Semoga hal tersebut benar-benar membawa berkah bagi Indonesia dan bisa dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Tak heran sebagian rakyat Bogor pun sukacita menyambut kedatangan sang raja.

Namun demikian, tak ada yang sempurna, khususnya dalam prosesi penyambutan sang raja di Bogor, dimana para pelajar dilibatkan untuk menyambut tamu  negara tersebut. Betapa tidak, cuaca kurang bersahabat ketika sang raja akan memasuki Gerbang Istana Bogor. Hujan deras disertai kilat menggelegar dua kali sontak membuat “Formasi Penyambutan” tercerai berai, khususnya para pelajar sekolah dasar. ”Gak tahu pak, anak-anak udah bubar begitu hujan besar,” ujar salah seorang penjaga sekolah ketika berdiskusi dengan guru dari salah satu SD di Kota Bogor.

Memang, semua siswa ceria dan sukahati menyambut raja Arab Saudi serta tidak semua sekolah buruk kordinasi di lapangan. Ada sekolah yang rapih seperti SMAN 9 Bogor. Mulai dari kedatangan hingga pulang dari penyambutan, tak mengenal istilah perut kosong. “Makanan ringan dan minuman kami siapkan ketika mereka menunggu tamu Negara. Begitu beres acara, baru mereka menikmati makan siang menjelang sore. Pokoknya, kami tidak ingin siswa sakit karena nggak makan,” jelas Kepsek SMAN 9, Denti.

Akan tetapi, tidak sedikit sekolah yang sangat kurang dalam memperhatikan ‘duklog’ bagi anak-anak mereka. Entah itu camilan dan air mineral, atau bahkan makan siang. Ringkasnya, beda sekolah, beda kepala sekolah rupanya beda juga atensi terhadap siswa mereka. Ada yang tidak memperhatikan sama sekali kebutuhan konsumsi siswa, namun ada juga yang sangat responsive.

Diguyur hujan besar, dan perut kosong adalah kombinasi yang berpotensi menurunkan daya tahan tubuh. Baik itu orang dewasa, remaja dan terlebih anak-anak sekolah dasar. Habis itu, ketika hujan besar mengguyur kawasan Istana Bogor, banyak pelajar khususnya anak-anak yang tidak membawa payung dan jas hujan. Jadilah mereka huhujanan dan berbasah ria pulang ke rumah.

Menurut warga Bogor, Irwan, hal ini harusnya tidak terjadi. ”Kasihan itu anak-anak SD, udah stand by dari pagi, pasokan makanan kurang dan pas hujan besar gak ada lagi yang bimbing mereka. Basah kuyup mereka. Harapannya semoga banyak yang kuat, dan tidak ada yang kenapa-kenapa esok harinya. Semoga saja,”ujar Irwan.(tjahyadi ermawan)