Sambut Lebaran, KWT di Pandeglang Produksi Kue Kering Talas Beneng

Publikasi

 

Pandeglang : Kue kering menjadi camilan favorit kala Hari Raya Idul Fitri. Tak heran menjelang hari raya kue kering banyak dicari. Hal ini ditangkap sebagai peluang oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Mitra Srikandi dan KWT Mawar Kecamatan Cipeucang Kabupaten Pandeglang Banten dengan memproduksi kue kering.

Untuk menciptakan citara rasa berbeda dari kue kering pada umumnya, maka tepung talas benengpun menjadi pilihan sebagai bahan bakunya.

Talas beneng adalah jenis umbi-umbian asli Pandeglang, dengan karakteristik berbeda dari talas daerah lain. Talas beneng bernilai strategis sebagai bahan pangan lokal untuk ketahanan pangan.

Yoyoh Rachmatunnisa, Koordinator Penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Cipeucang pendamping KWT mengatakan tekstur kue dari talas beneng lebih ringan dan lebih renyah bila dibandingkan dengan kue kering berbahan dasar terigu 100%.

“ rasa kue kering talas beneng tidak jauh berbeda dengan kue kebanyakan yang terbuat dari 100% tepung terigu. Hanya dengan bahan baku talas beneng tekstur kue lebih renyah, lebih ringan dan ngeprul, “ ucapnya, Kamis (22/04/2021).

Kue kering yang diproduksinya lebih dari 15 macam. Beberapa diantaranya adalah kastengel, nastar, coco crunch, bola coklat dan lain – lain. Dia mengaku, kue – kue tersebut sudah dipesan sebelumnya oleh masyarakat, sehingga tak perlu lagi mencari pembeli.

“ Nastar beneng,kastengel beneng,nastar bola coklat beneng, coco crunch beneng dan rupa – rupa kue kering lainnya kami buat sebagian besar berbahan baku talas beneng dan sudah pesanan, “ tuturnya,

Saat ini, tak kurang dari 300 toples Kue kering yang dicap dengan nama Rhino ini selesai diproduksi dan dijual dengan harga Rp 55.000 per toples setengah kilogram (kg). Yoyoh bilang jumlah pemesan masih terus bertambah seiring semakin dekatnya hari raya lebaran.

Selain berbahan dasar tepung talas beneng, KWT ini juga memproduksi kue berbahan dasar tepung jagung dan lain – lain.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menyampaikan Kementerian Pertanian selama ini tidak hanya menekankan pada upaya peningkatan produksi pangan, melainkan juga pada upaya peningkatan nilai tambah, daya saing, hilirisasi, pemasaran dan ekspor produk pertanian yang diharapkan dapat memberikan efek pengganda (multiplier effect) untuk sektor pembangunan lainnya.

Kata Mentan penanganan pascapanen dan pemasaran hasil pertanian membuka kesempatan berusaha serta meningkatkan nilai tambah produk pertanian.

Menyoroti pangan lokal Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi, mengatakan pangan lokal adalah produk pangan yang sudah lama diproduksi dan berkembang di masyarakat. Kata Dedi komoditas pangan lokal bisa dikembangkan sebagai sumber pangan alternatif maupun pangan utama. Salah satu keunggulan pangan lokal adalah bisa diolah terlebih dahulu.

“ Contohnya adalah talas yang bisa dijadikan banyak produk olahan seperti tepung, kue sayur roti biskuit, kripik, dan lainnya, “ ujarnya. (Regi/PPMKP).

.