Penyuluh Ajak Petani Di Bogor Kembangkan Minyak Atsiri

Publikasi

Ciawi Bogor – PPMKP : Minyak atsiri merupakan salah satu komoditas ekspor agroindustry potensial yang dapat menjadi andalan bagi Indonesia untuk mendapatkan devisa. Data statistic ekspor – impor dunia menunjukan bahwa konsumsi minyak atsiri dan turunannya naik sekitar 10% dari tahun ke tahun. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh perkembangan kebutuhan untuk untuk berbagai industri, di antaranya adalah industri flavor dan fragrance, farmasi, makanan, rokok, aromaterapi, industri pengendalian hama, serangga dan lain-lainnya.
Febriyantika staf pelaksana Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Bogor menuturkan sebagian Kabupaten Bogor berpotensi sebagai penghasil minyak atsiri. Para petani di Kabupaten Bogor telah mengembangkan tanaman yang merupakan bahan baku minyak atsiri yaitu cengkeh dan pala.
“ Berdasarkan data statistik perkebunan kabupaten Bogor tahun 2019 luas lahan tanaman pala 1,779,83 hektar dan cengkeh 1,884,01 hektar, “ ungkapnya dalam acara Agri Info Siang Radio Pertanian Ciawi (RPC), Selasa (21/7).
Permintaan pasar minyak atsiri semakin meningkat baik didalam maupun luar negeri. Yang paling banyak diminati kata Febriyantika, adalah minyak atsiri yang dihasilkan dari berbagai tanaman seperti pala, nilam, sereh wangi, lada, cengkeh, kayumanis, melati, cendana, kenanga kemukus, kayuputih dan lain – lain.
“ Dengan tingginya peminat minyak atsiri ini, membuat peluang usaha minyak atsiri masih menguntungkan untuk dicoba, “ ujarnya.
Untuk itu pemerintah Kabupaten Bogor dalam hal ini TPHP mendorong petani untuk juga menjadi pengrajin minyak atsiri.
“ Selama ini kan petani hanya memasok bahan baku. Untuk menambah nilai ekonomi produknya kami mendorong mereka untuk juga menjadi pengrajin,” ucapnya.
Sebagian besar produk minyak atsiri di Kabupaten Bogor yang dihasilkan oleh petani dengan menggunakan alat penyuling yang sederhana, sehingga mutu minyak menjadi rendah. Untuk itu Pemda memfasilitasi petani dengan peralatan yang baik agar dapat menghasilkan minyak atsiri berkualitas baik. Bantuan yang diberikan berupa hibah bangunan dan peralatan pengolah atsiri. Selain itu bantuan inipun bertujuan untuk meningkatkan minat petani dalam memproduksi atsiri.
“ Mereka menggunakan drum bekas atau alat plat besi dan pipa ledeng untuk membuat alat penyuling. Bahan–bahan tersebut mudah berkarat dan menyebabkan warna minyak menjadi gelap sehingga mutu minyak menjadi rendah,” kata Febriyantika.
Karena merupakan komoditas ekspor harga minyak atsiri cukup tinggi. Misalnya minyak atsiri sereh wangi dan mintak atsiri cengkeh sekitar 150,000 per liter, minyak atsiri pala 500,000 per liter. Namun harga ini dipengaruhi oleh kualitas.. Bila minyak atsiri yang dihasilkan berkualitas baik, maka harga jualpun akan sangatlah baik. Untuk itu Febriyantika mengingatkan agar petani menjaga kualitas minyak atsiri dengan menggunakan bahan baku yang bermutu baik dan memperhatikan cara dan alat untuk mendapatkan minyak atsiri.
“ Misalnya untuk minyak pala untuk keperluan penyulingan biji pala dipanen waktu buahnya masih muda yaitu umur sekitar lima bulan karena kadar minyak atsirinya masih tinggi, “ tuturnya.
Adapun manfaat dari minyak pala kata Febriyantika bisa digunakan sebagai aromatherapy untuk relaksasi dan sebagai antiseptik.
Hilirisasi industri untuk produk pertanian unggulan dan potensial merupakan fokus kerja Menteri Pertanian Syahrul yasin Limpo. Mentan mengatakan hilirisasi industri produk hasil pertanian perlu untuk dilakukan mengingat Indonesia kaya akan sumber daya alam. Tanaman obat, minyak atsiri serta rempah-rempah, merupakan komoditas potensial Indonesia untuk ekspor. Ekspor minyak atsiri Indonesia trennya tumbuh 3,79% dari 2014-2018. Pada tahun 2018 saja ekspor minyak atsiri Indonesia menurut Kementerian Perdagangan mencapai US$ 199,3 juta
Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi menyatakan sektor pertanian di daerah memiliki kontribusi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Bidang usaha pertanian tidak hanya meliputi sektor hulu saja, melainkan sampai ke hilir. Ia menegaskan sudah waktunya petani tidak hanya mengerjakan aktivitas on farm, tapi mampu menuju ke off farm terutama pasca panen dan olahannya untuk menaikkan nilai pertanian.(Regi/PPMKP)