Pemerintah Bina P4S Tingkatkan Produksi dan Dorong Ekspor

Publikasi

 

Bogor : Kementerian Pertanian (Kementan) menilai peran Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) sangat strategis. Melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) pemerintah terus mendorong penumbuhkembangan P4S dalam rangka mempercepat proses pembangunan pertanian dan perdesaan.

Kepala (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan pemerintah juga terus berupaya untuk memberdayakan P4S melalui pembinaan secara berkesinambungan, baik dari aspek manajemen pelatihan/permagangan, maupun pengembangan usaha, mengingat kapasitas pengelola P4S pada umumnya masih perlu ditingkatkan.

Sebagai salah satu bentuk pembinaan terhadap P4S binaan di Provinsi Jawa Tengah, Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi Bogor menggelar kegiatan Sharing Session (Sesi) Budidaya dan Potensi Vanili Di Pasar Dunia.

Kepala PPMKP Yusral Tahir mengatakan webinar ini juga untuk mengembangkan kompetensi pengelola P4S serta mendukung program Gratieks (Gerakan Tiga kali Ekspor) yang digaungkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

“ Mengutip statement pak Menteri, program Gratieks merupakan ujung tombak ekonomi nasional. Dan Kementan optimistis bahwa nilai ekspor pertanian Indonesia akan meningkat tajam, “ ujarnya.

Lebih jauh kata Yusral webinar untuk mendukung dan turut mendorong Indonesia menjadi produsen vanili terbesar dunia.

Menghadirkan narasumber kompeten, webinar menyedot 76 peserta terdiri dari petani pegiat vanili, penyuluh, pengelola P4S dan Dinas Pertanian. yang mempraktikan budidaya sekaligus mensosialisasikan komoditas vanili yang dikenal sebagai emas hijau yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

 

Pembicara Haris Darmawan Koordinator Tanaman Rempah dan Semusim lain Direktorat Jenderal perkebunan (Ditjenbun) memaparkan Kementan mendorong Petani vanili untuk menjual vanili dalam bentuk kering agar lebih banyak mendapatkan keuntungan.

“ Perbedaan harga vanili kering dan basah cukup tinggi. Sehingga kami mendorong petani untuk memproses terlebih dahulu vanilinya menjadi kering, “ ujarnya.

Vanili yang mendapat julukan emas hijau karena harganya yang fantastis dan cenderung stabil di tingkat dunia, membutuhkan proses yang panjang agar bisa menghasilkan sebuah tanaman yang bermanfaat dan bisa dipanen hasilnya.

Kata haris agar bisa menghasilkan biji vanili yang berkualitas, perlu dilakukan penyerbukan secara manual.

“ Gunakan tusuk gigi untuk mengambil serbuk sari dari tanaman vanili dan pindahkan serbuk sari tersebut pada putiknya. Setelah proses ini berhasil maka dapat dilihat tanaman akan mulai memunculkan kantung-kantung vanili, “ jelasnya.

Pembicara lain Parlin Robert Sitanggang Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang, mengutarakan vanili dapat diterima ke negara tujuan jika memenuhi syarat ekspor ke negara tujuan. Ekspor bisa dilakukan setelah pejabat karantina memastikan bahwa Si emas hijau bebas dari organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) .

Dipandu ketua Forum Komunikasi P4S Provinsi Jawa Tengah, Maryanto kegiatan ditutup dengan sharing pengalaman dengan pengelola P4S Griya Vanilli Nurcahyo Eko Junaidi Salatiga dan diskusi.(Regi/PPMKP).