You are currently viewing Pabrik Ekstasi di Pondok Rajeg Produksi Obat Jenis Baru dengan Dampak Paling Jahat

Pabrik Ekstasi di Pondok Rajeg Produksi Obat Jenis Baru dengan Dampak Paling Jahat

 

 

Wartapakwan.co.id, CIBINONG – Putri Indonesia menyatakan keprihatinan terhadap kasus penggerebekan pabrik ekstasi yang melibatkan tiga tersangka di Perumahan Sentra Pondok Rajeg No.5 , Blok B2, Kelurahan Tengah, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Saya merasa prihatin karena saya enggak pernah tahu ternyata di Indonesia juga ada pabriknya dan saya baru tahu ini ada obat jenis terbaru dan tadi di katakan tri in one yang merupakan paling jahat,” ujarnya pada wartapakwan.co.id, Senin (24/9).

Sonia yang didampingi Kapolres Jakarta Barat, Komisaris Besar Polisi, Hengki Haryadi, menghimbau kepada generasi muda sebagai penerus bangsa agar menjahui narkoba.

“jadi saya ingin mengedukasi para generasi muda karena mereka adalah generasi penerus bangsa agar menjauhi narkoba dan lebih waspada karena Narkoba ini bukannya membantu malah sebenarnya merusak,” tuturnya.

Sementara, Kepala Kepolisian Resor Jakarta Barat, Komisaris Besar Hengki Haryadi mengatakan, selain bahan pembuatan ekstasi juga ditemui bahan dasar pembuatan sabu.

“Menurut pengakuan tersangka, bahan-bahan yang ditemukan juga akan dikembangkan untuk pembuatan sabu,”.

Lebih jauh Hengki mengatakan, pabrik home indsutri pembuatan narkotika ini tergolong berbahaya. Pasalnya pabrik ini memproduksi dalam jumlah banyak narkotika jenis ekstasi yang belum pernah dibuat sebelumnya atau jenis narkotika baru.

“Kami menyebutnya sebagai 3 in 1, dan ini barang berbahaya, biasanya ekstasi efeknya hanya stimulan, tapi ini memberikan efek depresan dan halusinagen, jadi tiga efek dalam satu,”.

Dari tangan tersangka polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa Narkotika jenis sabu dengan berat 158 gram, ekstasi sebanyak 3000 butir, 1 paket narkotika jenis ganja, pil eximer sebanyak 2000 butir, 1 kg bahan baku ekstasi, 3 mesin alat cetak ekstasi merek TDP-O, 3 botol kecil baham baku pewarna makanan cair merek kupu-kupu, 3 buah timbangan elektrik, 1 buah kalkulator, 3 buah handphone untuk komunikasi dan transaksi, bahan baku bubuk gram cafeein dengan berat 1.274 gram, bubuk avicel dengan berat 4.761 gram, epheriderine dengan berat 1.800 gram, dan pewarna bubuk dengan berat 250 gram.

Akibat dari perbuatannya tersangka SI (55) dijerat pasal 114 Ayat (2) subsider pasal 112 Ayat (2) subsider pasal 111 Ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Sementara tersangka berinisial AP (40) dan RS (24) dikenakan pasal 113 Ayat (2) subsider pasal 114 Ayat (2) subsider pasal 112 Ayat (2) Undang-undang Republik Indonesia nomor 35 tentang 2009 tentang Narkotika.

(adi/wartapakwan.co.id)