Limbah Maggot, Pupuk Organik Kebun Pekarangan

Publikasi

PPMKP : Sumberdaya manusia yang baik dan berkualitas dihasilkan dari tubuh yang sehat. Tubuh yang sehat dapat diperoleh dengan gaya hidup yang sehat. Gaya hidup tersebut diantaranya adalah rajin berolahraga, tidur cukup aktivitas seimbang dan mengkosumsi makanan – makanan sehat. Karena alasan ingin memiliki tubuh yang sehat menjadi slah satu alasan orang memilih produk organik dengan kelebihannya yakni non pestisida.

Kesadaran ini memicu meningkatnya permintaan produk organik sebut saja sayur mayur. Ini mulai merubah cara bertanam petani dari pertanian konvensional ke organik. Terutama mereka yang bertani dengan sistem bertanam vertikultur atau dengan pot dipekarangan. Tidak hanya karena bernilai ekonomis tinggi serta sehat, pertanian organik penting untuk perbaikan ekosistem pertanian yang kian rusak terpapar bahan sintetik atau kimiawi seperti pestisida. Hal tersebut membuat meningkatnya permintaan pupuk organik. Selain pupuk kandang kini limbah bekas media budidaya maggot populer dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Hendra Kurnia Harasjid Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Harmani yang juga pegiat urban farming di Jakarta kini getol membudidayakan Maggot di kolong rel PT KAI. Pakan maggot berupa limbah organik diperoleh dari warga melalui Dinas Kebersihan DKI Jakarta.

Dari luas lahan pembesaran maggot 50 meter persegi yang Hendra kelola ada enam biofon pembesaran. Satu biofon kurang lebih 30-50 kg maggot per dua minggu bisa menghasilkan maggot sekitar 300 kg maggot dan hasil pupuk nya (limbah maggot) 100 – 200 kg. Limbah maggot ini dijual per kemasan 5 kg dengan harga 10 – 15 ribu rupiah.

Kata Hendra proses mendapat pupuk nya lebih cepat dan kandungannya lebih baik dari pupuk kompos biasa. Sisa limbah organik atau dikenal dengan limbah maggot kaya akan asam amino, enzim, mikroorganisme dan hormon yang tidak ditemukan pada pupuk organik lainnya, sehingga membuat tanaman lebih subur.

“ Sisa panen atau kotoran maggot sebagai pupuk organik sama seperti kompos namun kandungannya lebih bagus, hasil panennya contohnya bayam, batangnya bisa lebih besar dan daunnya lebih subur “ tandasnya.

Maggot atau belatung merupakan larva dari lalat Black Soldier Fly (Hermetia Illucens, Stratimydae, Diptera) atau BSF. Selain bermanfaat untuk mereduksi sampah organik, limbahnya yakni sampah organik yang tidak termakan oleh maggot, bisa dimanfaatkan sebagai sumber kompos atau pupuk organik.

Meskipun dari limbah sampah organik, namun pupuk yang dihasilkan tidak berbau. Nilai ekonomis, lain dari Maggot yaitu bisa menjadi sumber pakan ternak unggas dan ternak ikan.

“ Pakan ternak dan pupuk yang dihasilkan dari maggot tidak berbau sehingga sangat cocok untuk pertanian organik di pekarangan. Penggunaan maggot bisa menekan penggunaan pakan untuk peternakan dan ikan dan pupuk berbahan kimia, “ ungkap Hendra.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengharapkan dalam jangka panjang, dia ingin para petani bisa menghasilkan pupuk organik secara mandiri yang kualitasnya bisa lebih baik dari pupuk anorganik saat ini. SYl yakin pupuk organik kedepan bisa makin menguntungkan karena hasil pertanian non pestisida kualitasnya lebih bagus sehingga pasarnyapun bisa lebih besar.

Terkait dasar hukum yang digunakan untuk pendaftaran pupuk dan pembenah tanah di Indonesia Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan Kementerian Pertanian telah menyiapkan dasar hukum yakni Permentan No. 01/2019 untuk Pupuk Organik, Pupuk hayati dan Pembenah Tanah. Permentan ini mengatur tentang persyaratan utama yang harus dipenuhi, yakni uji mutu dan uji efektivitas sesuai dengan jenis pupuk yang didaftarkan, Hal ini bertujuan untuk melindungi petani.(RG/PPMKP)