Guha Patilasan Patih Jaya Perkasa Tak Jauh dari Gunung Salak

Featured Sejarah
Tim Warta Pakwan masuk ke dalam gua patilasan Sanghyang Hawu. Foto: tjahyadi ermawan.

MENELUSURI jejak sejarah Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dan para patih setianya, selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan. Betapa tidak, banyak sekali mitos dan misteri yang melekat pada sosok raja agung dan hebat serta bijaksana dari Kerajaan Pakwan Padjadjaran itu.

Kali ini, Tim Warta Pakwan kembali menggelar ekspedisi. Sebuah perjalanan membelah lebatnya hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Salak Halimun, kembali dihelat. Pada momen ini, tim mencoba menelusuri jejak atau patilasan dari salah seorang Patih Padjadjaran, yaitu Jaya Perkasa atau Sanghyang Hawu.

Berbekal informasi dan kisah dari masyarakat, tim berhasil tiba di kawasan yang diduga kuat pernah dipergunakan oleh Jayaperkasa. Lokasinya berada di ketinggian, jalan menuju ke lokasi juga sangat terjal. Harus menggunakan kendaraan offroad jika ingin menembusnya dengan kendaraan.

Maklum, medannya sangat sulit untuk dilalui kendaraan biasa. Apalagi jika ground clearennya tidak sampai 200 mm. Dipastikan akan susah payah. Opsi lainnya adalah ditempuh dengan berjalan kaki. Hiking dan crosscountry. Menyusuri jalan setapak, pematang sawah, kebun dan bukit yang terjal. Turun dan naik.

Singkat cerita, Tim Warta Pakwan akhirnya tiba di salah satu gunung yang diyakini menjadi tempat atau patilasan Patih Jaya Perkasa. Di lokasi ini, tim mencari gua atau guha yang dahulunya dipergunakan sang patih untuk bersuci dan meningkatkan kedalaman spiritualnya.

Dengan dipandu warga yang juga diyakini masih keturunan dari Jaya Perkasa, Tim Warta Pakwan akhirnya berhasil menemukan gua yang dimaksud. Harus melalui jalan yang cukup terjal, dan tidak semua warga mau mengantar ke lokasi. “Selain memang tidak semua tahu soal sejarahnya, warga juga pernah melihat ada dua ekor ular besar di sekitar gua. jadi jarang ada yang berani ke lokasi ini,” ujar Wawan, warga yang mengantar Tim Warta Pakwan.

Ketika masuk dan menuruni jalan menuju ke dalam gua, Wawan berkali-kali mengingatkan tim untuk berhati-hati karena ada lubang yang sangat dalam. “Disenter tak terlihat, dan ketika ada batu jatuh juga tidak terdengar bunyinya. Itu pasti lubang yang sangat dalam. Jadi harus hati-hati,”pesannya.

Dengan perlahan, akhirnya tim warta pakwan berhasil masuk ke dalam gua. Jalannya kini terbuka lebar. Padahal, dahulu menurut  Wawan, jalan masuknya nyaris mustahil, yaitu hanya selebar badan. “harus merangkak, tapi sekarang jadi terbuka. Mungkin karena pengaruh gempa beberapa waktu lalu, jadi terbuka. Saya sendiri sudah hampir 20 tahun lebih baru kembali ke sini,” jelasnya.

Di dalam gua, tim akhirnya menemukan batu yang dikini dipergunakan oleh Jaya Perkasa duduk saat bertapa. Menurut Wawan, meski kondisi yang lain berubah, namun lokasi tempat duduk atau pangcalikan sang patih, masih seperti dulu. “Ya, masih seperti itu dari dulu. Nggak berubah,” terangnya. Di lokasi inilah, Sang Patih Jaya Perkasa meningkatkan spiritualnya sehingga akhirnya mendapatkan gelar Sanghyang Hawu. (cay)