Dukung Icon Kota Cilegon, KWT Tanjung Sekong Kembangkan Jagung Pulut Ungu 

Publikasi

 

Cilegon : Jagung pulut kini menjadi icon baru Kota Cilegon Provinsi Banten. Komoditas ini terus dikembangkan di Kota Cilegon salah satunya oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Tanjung Sekong Kelurahan Lebak Gede, Kecamatan Pulomerak.

Emi Sahlani Pengurus KWT Tanjung Sekong, mengatakan, saat ini permintaan jagung pulut terus meningkat. Jagung pulut yang dihasilkan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) yang Ia dikelola rasanya berbeda dari jagung pada umumnya.

“Kewalahan, permintaan dari pembeli banyak, bahkan banyak pembeli dari luar daerah yang membeli buat oleh-oleh mereka di kampung halamannya,” katanya.

Emi mengaku, saat ini lahan yang dikelola baru ada sekitar 1.500 meter. Ia berharap akan ada KWT lain yang bermitra mengembangkan.

“Saya sih berharap ada KWT lain yang ingin membudibudayakan menanam jagung pulut ini agar permintaan dapat terpenuhi,” harapnya

Sarbini Penyuluh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Cilegon menyampaikan saat ini KWT Tanjung Sekong yang menjadi binaannya tengah mengembangkan jagung pulut di lahan pekarangan milik pribadi dan lahan perusahaan.

“ Jagung pulut sudah jadi unggulan program dinas tahun ini. Lahan untuk jagung pulut di kecamatan Pulomerak mencapai 5.000 meter tersebar di KWT dan kelompok tani, “ ujarnya, Rabu (21/04/2021)

Mengenai benih petani tak lagi mengalami kesulitan, selain menghasilkan sendiri, benih bisa mudah diperoleh di kios terdekat.

Menurut Sarbini jagung warna ungu dan putih dengan rasa pulen seperti ketan ini sangat tinggi peminatnya. Bahkan seringkali permintaan lebih tinggi dibanding produksi. Pemasaran dilakukan baik secara individu atau pabrik dan kerjasama dengan pasar tani DKPP.

“ Harga dipatok berdasarkan gradenya. Harga grade A 7.000 rupiah, B 6.000 rupiah dan grade C 5.000 rupiah, “ tuturnya.

Banyaknya permintaan, membuat Kelompok Wanita Tani (KWT) yang mengelola jagung pulut kewalahan untuk memenuhi permintaan..

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan kedepan harus ada daerah sentra-sentra komoditas, dengan ditanganinya hulu sampai hillir. Dengan cashflow dan perencanaan yang baik agar segalanya berjalan dengan baik dan menguntungkan bagi petani. Untuk itu Menurut SYL perlu keseriusan dan kerjasama semua pihak.

 

Mengenai peningkatan produksi hasil pertanian Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi menyampaikan kekuatan utama pertanian Indonesia berada di pundak petani dan penyuluh. Kalau produktivitas tinggi, sudah pasti penyuluhnya aktif. Melalui Kostratani diharapkan penyuluh bisa mengidentifikasi potensi komoditas unggulan lokal yang bisa mengungkit pendapatan dan kesejahteraan petani. Dedi optimistis pertanian Indonesia akan bertansformasi menjadi pertanian unggul. (Regi/PPMKP)