Dedi Mulyadi : Keseimbangan Tanah, Air, Udara dan Matahari Kunci Keberhasilan Pembangunan Pertanian

Publikasi

Purwakarta : Tanah, air, udara dan matahari merupakan unsur-unsur penting yang terkait satu sama lain, dalam pengelolaan dan budidaya pertanian.
Hal tersebut menjadi sorotan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi saat menghadiri Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Petani di desa Cipulus Kecamatan Wanayasa Purwakarta Jawa Barat, belum lama ini. Turut hadir Kepala Pusat Pelatihan Pertanian (Puslatan) Leli Nuryati dan Kepala Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi Bogor Yusral Tahir.
Dedi menyampaikan pembangunan pertanian akan berhasil jika empat karakter manusia yakni karakter tanah, air, udara dan matahari dibangun.
Dedi melanjutkan keempat karakter dan unsur tersebut haruslah bersenyawa. Adanya persenyawaan manusia dengan alam, persenyawaan manusia dengan tanah dan air, dengan udara dan juga persenyawaan dengan matahari. Menurutnya persenyawaan ini akan membangun siklus kehidupan petani.
“ Tugas kita dipertanian ada ilmu memuliakan tanah. Memuliakan unsur kehidupan tanah, mulai dari cacing, belut dan berbagai mikroorganisme di dalamnya. Ini harus dijaga, sehingga timbul silih asah, silih asih dan silih asuh antar ke empat unsur tersebut, “ ujarnya.
Pertanian seperti ini akan menghasilkan produk yang yang penuh kemuliaan dan bermartabat yang akhirnya berimbas pada harga menjadi mahal. Ia mencontohkan di Jepang ada sapi Wagyu yang harga dagingnya mencapai belasan juta per kilogramnya, itu karena sapinya diurus dengan baik. Dengan seekor sapi saja petani bisa kaya. Dedi mengaku model pertanian seperti inilah yang ingin dikembangkannya.
“ Model pertanian seperti ini penuh kemuliaan. Beras organik yang diurus dengan baik (dipupusti – sunda – red) harganya mahal. Akan berbeda dengan sawah yang dibiarkan begitu saja. Sapi yang dilepas begitu saja di TPA dengan sapi yang diurus dengan sangat baik, disejahterakan, perlakuan dan pakannya. Makanya dagingnya menjadi enak dan harganya mahal, “ ungkapnya.
Ia menekankan juga dalam melaksanakan budidaya petani disarankan tidak menghitung keuntungan lebih dulu dan hasil yang belum pasti.
“ Yang mengerti agama, jangan menghitung hasil dan keuntungan lebih dulu. Cukup dengan menyayangi apa yang ditanam dan dipelihara. Karena Tuhan pasti akan membalas juga dengan kasih sayang, “ ucapnya.
Dedi menjelaskan, petani bisa hidup jika memiliki sawah yang subur, memiliki peliharaan (ternak) dan perikanan. Inilah yang disebut dengan tri Tangtu. Yang artinya dalam menjalani kehidupan ada ketentuannya. Berdasarkan ketentuannya, sawah yang subur itu harus ada cacing sawah, jika ada cacing didalamnya pasti banyak unsur mikro organismenya.
“ Ketika dulu menjadi Bupati Purwakarta saya mengusung visi Purwakarta berkarakter. Karakter itu apa? Memiliki Identitas. Identitas apa? Gunung harus sesuai dengan identitas gunungnya. Maka, mengurus gunung harus memakai hukum gunung, mengurus sungai harus menggunakan hukum sungai demikian pula mengurus Kuluwung (saluran air), selokan dan kungkulungan, “ jelasnya.
Mengenai pertanian berbasis organik Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) memiliki pandangan yang sama. Dalam sebuah kesempatan Ia mengutarakan dalam jangka panjang, dia ingin para petani bisa menghasilkan pupuk organik secara mandiri yang kualitasnya bisa lebih baik dari pupuk anorganik saat ini.
“Hasil pertanian non pestisida itu kualitasnya lebih bagus dan pasarnya bisa lebih besar. Pupuk organik itu makin menguntungkan ke depan. Seharusnya petani memang bisa memproduksi sendiri,” ucapnya.
Sementara itu Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menyerukan penyuluh terus mendorong petani memakai pupuk organik, untuk ketahanan lingkungan dan produk berkualitas. Kepala BPPSDMP Kementan Dedi Nursyamsi mengatakan nilai jual dan kesehatan produksi pertanian akan tinggi untuk menembus pasar ekspor ke mancanegara.
“Pupuk, salah satu sarana produksi yang penting untuk pertanian. Pemerintah selalu alokasi anggaran besar dengan kebijakan pupuk bersubsidi bagi petani agar mendapat pupuk berkualitas,” kata Dedi. (Regi/PPMKP)