Berkejaran Dengan Hujan Petani Panen Gunakan Combine Harvester

Publikasi

 

Pandeglang : Berkejaran dengan hujan yang masih sering turun petani kelompok tani (Poktan) Sinar Tani Muda Desa Pasir Panjang Kecamatan Picung Kabupaten Pandeglang Banten panen menggunakan Combine Harvester.

Alsintan menjadi pilihan karena petani ingin secepatnya menyelesaikan panen dan kembali menyiapkan lahan untuk bertanam.

“ Awalnya petani mencoba menggunakan Power thresher pinjaman dari brigade alsintan, sudah di coba tapi karena kendalanya seperti itu (hujan) saya menyarankan ke ketua poktan agar power tersebut di amankan dulu sebelum di kembalikan ke brigade alsintan, dan beralih menyewa CH, “ ujar Wawan Suwarlan Koordinator penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani) Kecamatan Picung, Jum’at (8/01/2021).

Kata Wawan dengan menggunakan mesin pertanian tersebut panen bisa lebih cepat dilakukan. Luas sawah yang siap dipanen 30 hektare baru selesai dipanen sekitar 17 hektare dan sisanya diperkirakan akan selesai panen pada akhir pekan ini.

” CH ini sangat membantu petani dalam mempercepat panen. Jika nonstop menggunakan CH, perhari lima hektar mah bisa ” katanya.

Namun karena terkendala cuaca gabah hasil panennya belum bisa dijemur sehingga ada petani yang memilih langsung menjualnya dengan harga Rp. 3,500 – 4,000 per kilogram.

Ia mengatakan,dari hasil hitungan petani produktivitas varietas Inpari 42 yang dipanen tersebut bervariasi antara 5 – 7 ton gabah kering panen (GKP) per hektare.

Disinggung mengenai gangguan pada tanaman di musim tanam (MT) III tahun 2020 dikatakan Wawan tanaman padi relatif aman dan pertumbuhan padipun normal.

“ Kendala di sini masih selalu turun hujan. Kalau gangguan pada tanaman padi alhamdulillah ga ada pertumbuhan padinya normal sampai di panen, “ tuturnya.

Penggunaan alsintan Ini sejalan dengan optimisme Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo perihal kemajuan teknologi pertanian dengan modernisasi pertanian yang diwujudkan dengan penggunaan alat dan mesin pertanian yang dilakukan secara massif pada setiap proses produksi. Menurutnya alat dan mesin pertanian ( alsintan) adalah ciri petani modern.

Transformasi pertanian dari pertanian tradisional ke pertanian yang modern, diserukan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi.

Menurut Dedi, transformasi pertanian bukan hanya keharusan, tapi juga merupakan kebutuhan mengingat perkembangan zaman dan juga jumlah penduduk yang terus bertambah secara signifikan.

“Pertanian tradisional prorduktivitasnya rendah. Sedangkan pertanian modern produktivitasnya tinggi. Karena itu, dengan segalah keterbatasan dan kekurangan, transformasi pertanian dari tradisional ke modern mutlak untuk dijalan mulai saat ini juga,” tegas Dedi.(Regi/PPMKP)