Aya Teureuh Sanghyang Hawu di Kabandungan

Keturunan Patih Jaya Perkasa atau Sanghyang Hawu generasi kelima diduga kuat berada di Kawasan Kabandungan, tak jauh dari Gunung Salak dan Halimun. Foto: Tjahyadi Ermawan

Sukabumi, WARTAPAKWAN

Bicara sejarah Sumedang tak bisa lepas dari nama Sanghyang Hawu atau Jaya Perkasa. Sebelum mengabdi di Kerajaan Sumedang Larang, Sanghyang Hawu adalah Patih di Kerajaan Pakwan Padjadjaran. Bersama tiga patih lainnya, yaitu Batara Dipatiwijaya (Embah Nanganan), Sanghyang Kondang Hapa, dan  Sanghyang Pancer Buana (Ki Terong Peot) mereka merupakan patih kepercayaan dari Pakwan Padjadjaran. Mereke berempat mendapat tugas membawa Mahkota Kerajaan Pakwan Padjadjaran, yaitu Mahkota Binokasih untuk dititipkan di Sumedang.

Dari berbagai sumber, ketika itu Kerajaan Pakwan Padjadjaran diserang oleh pasukan dari Banten, sehingga Mahkota Padjadjaran dititipkan ke Kerajaan Sumedang saat diperintah oleh  Prabu Geusan Ulun.

Dalam berbagai literatur, dikisahkan juga Jaya Perkasa atau Sanghyang Hawu marah kepada raja Sumedang dan juga rekannya sesama patih asal Padjadjaran, yaitu Batara Dipatiwijaya karena tidak menuruti pesannya. Alkisah saat itu Kerajaan Sumedang sedang diserang oleh Kerajaan Cirebon. Jaya Perkasa berpesan kepada raja untuk tidak meninggalkan ibukota. Sebelum pergi bertempur, Jaya Perkasa menanam pohon hanjuang di Kutamaya. Ini sebagai tanda bagi raja Sumedang. Jika pohon hanjuan itu tumbang, dan mati, maka artinya Jaya Perkasa kalah perang. Namun, jika pohon Hanjuang di Kutamaya itu masih tegak berdiri, maka artinya Jaya Perkasa memenangkan peperangan.

Singkat cerita, dari berbagai sumber dikisahkan karena pertempurannya berkepanjangan, raja Sumedang khawatir dan memilih pindah serta mengungsi ke daerah Dayeuh Luhur, suatu kawasan di atas perbukitan.

Mereka mengira Jaya Perkasa kalah perang. Padahal, Jaya Perkasa memenangkan peperangan. Ketika kembali dari medan perang, dan tidak menemukan raja serta rekannya. Sang Patih yang dikenal sakti ini pun murka dan memilih untuk pergi meninggalkan Sumedang.

Kemanakah Sanghyang Hawu pergi dan akhirnya wafat? Di sejumlah tempat banyak diklaim sebagai tempat patilasan Jaya Perkasa. Sangat mungkin, karena sebagai patih kepercayaan Pakwan Padjadjaran, Jaya Perkasa sudah pasti harus mengetahui setiap jengkal wilayah kerajaan mulai dari kawasan Kerajaan Galuh (Ciamis, saat ini) hingga kawasan Pakwan Padjadjaran (Bogor). Wajar jika terdapat banyak tempat yang diduga pernah disinggahi oleh beliau.

Salah satunya adalah di kawasan pegunungan yang tak jauh dari kawasan Gunung Salak dan Halimun. Di tempat ini terdapat seseorang yang diduga kuat sebagai salah satu keturunan dari Sanghyang Hawu. Pembawaannya tenang, dan perawakannya pun tidak terlalu besar. Sangat someah dan santun kepada tamu. Namun, jangan coba-coba buat keonaran. Meski usianya tak lagi muda, bapak ini sanggup merobohkan lawan dalam waktu singkat. Bisa dibilang sangat mahir dalam pencak silat. (Tjahyadi Ermawan)