Generasi Kelima Ki Terong Peot Ada di Kabandungan

Abah Omang bersama Kang Dede. (Bawah) kujang tumbang. Foto: wartapakwan.co.id

WartaPakwan-Di kawasan ini dahulu terdapat batu lingga yang  cukup tinggi dan besar. Sekarang daerah ini disebut Citugu (daerah kabandungan). Dataran  tinggi  di daerah Kabandungan  ini dahulunya diyakini pernah dipakai sebagai tempat bersemedi yang mulia Sribaduga Maharaja  Prabu Siliwangi. Namun, kini hanya menyisakan cerita. Hamparan tanah, batu lingga yang cukup tinggi dan besar sudah tidak nampak lagi dikarnakan tangan-tangan jahil yang tidak bertanggungjawab.

Masih banyak lagi  di kawasan selatan Kerajaan Padjadjaran yang memiliki cerita-cerita sejarah yang tidak terulis  di naskah manapun. Tim ekspedisi wartapakwan  bertemu dengan  keturunan Ki Terong Peot. Pria tua berumur 85 tahun ini diyakini sebagai generasi kelima dari Sanghyang Pancar Buana atau Ki Terong Peot. Beliau diwariskan  pusaka dari leluhurnya berupa kujang tumbak pusaka  dimana pada masa peperangan  kerajaan dulu senjata kujang tumbak ini bisa di perintah olah tuanya untuk membunuh dan mencari musuh dari jarak jauh. Melesat terbang mengejar sasaran sesuai target yang diinginkan pemiliknya.

Dialah bapak dayat atau abah omang. Kepada  tim wartapakwan, abah mengatakan   daerah selatan ini adalah basis pertahanan benteng (kabandungan) yang tidak dapat ditembus oleh musuh manapun, termasuk oleh pasukan Kesultanan Banten dan sekutunya.

Kesetiaan para patih terhadap raja dan negara dikenal dengan istilah PAKU DJADJAR. Mereka setia sampai akhir. Bagi keturunan para patih ini (abah omang) nama besar Kerajaan PAKWAN PADJADJARAN selalu ada di hati hingga saat ini. (Dede Hendrika)