Sepenggal Kisah Eno Atmawijaya, Penjaga (Leuweung Samida) Sanghyang Rancamaya yang Terlupakan

Kawasan Situs yang tersisa di Rancamaya. (Atas): Abah Eno menunjukkan patilasan Mbah Punjung. Foto: Edwin Bogor Historia untuk wartapakwan.co.id

Usianya tak lagi muda, namun masih cukup gesit dan kuat untuk menjaga Sembilan pohon besar peninggalan kerajaan Pakuan Pajajaran. Dialah Abah Eno Atmawijaya, warga kelurahan Rancamaya, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat.

SELAIN menjaga kelestarian Sembilan pohon besar yang diyakini sisa-sisa dari Leuweung Samida (Hutan Larangan), abah juga secara de facto menjaga kawasan seluas 500 meter persegi dimana di dalamnya terdapat sejumlah situs.

Ada yang mengklaim makam, namun ada juga yang meyakininya sebagai patilisan. Ini ditandai dengan temuan batu-batu di kawasan tersebut. Namun demikian, abah tidak termasuk jupel alias juru pelihara situs. Dia menjalani semua rutinitas 7 x 24 jam menjaga situs dengan sepenuh hati. Tanpa bayaran sepeserpun dari anggaran pemerintah. Pusat, Provinsi, Kota Bogor melalui dinas terkait pun luput.
Mengapa Abah Eno bisa tidak digaji? Hal ini karena pemerintah, baik di pusat, Provinsi Jabar, Kota dan Kabupaten Bogor tidak mengakui Rancamaya sebagai Situs Peninggalan Kerajaan Pakuan Pajajaran. Walaupun berbagai literature dan naskah kuno, serta manuscip menyebut adanya Bukit Badigul dan Telaga Maharenawijaya serta sejumlah situs lainnya. Bahkan, sejumlah kalangan meyakini jika Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi wafat dan dipusarakan di Rancamaya.

Kondisi inilah yang membuat Abah Eno tidak terpantau, dan terabaikan. Kepada tim dari Bogor Historia (BoHis), sebuah organisasi berisikan para volunteer pecinta sejarah dan budaya, Abah Eno menuturkan bahwa yang dijaganya adalah kawasan yang dahulunya diduga bagian dari Telaga Maharena Wijaya, sebuah danau yang dibuat atas perintah dari Raja Pakuan Pajajaran yang termasur, yaitu Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dan juga beberapa makam serta patilasan.

“Hanya kawasan ini yang tersisa, dan mungkin bisa jadi petunjuk untuk penelitian. Abah mah sauukur ngaja, ulah nepi salapan tangkal gede ieu dituar ku proyek Bocimi,” ujarnya. Dari pantauan Tim BoHis di lapangan, areal yang dijaga Abah Eno sangat berdekatan dengan proyek Bocimi. Diperkirakan sekitar 30 sampai 50 meter dari proyek tersebut.(tjahyadi ermawan/BogorHistoria)