Masih Ada Sisa Mahakarya Sri Baduga di Rancamaya, Pemkab dan Pemkot Bogor Belum Bergerak

Batuan yang diamankan warga akibat proyek Bocimi. Atas: Salah satu sumber air yang masih tersisa di Rancamaya. Foto: Bogor Historia | Edwin S for wartapakwan.co.id

Dalam empat bulan ke depan, tepatnya Juni 2017 Kota dan Kabupaten Bogor akan merayakan Hari Jadi Bogor (HJB) yang ke-535 Tahun. Titik tolak HJB  didasarkan pada dinobatkannya Raja Jayadewata sebagai raja di Pakwan Pajajaran pada tahun 1482 dengan gelar Sri Baduga Maharaja Kanjeng Prabu Siliwangi.

Berbagai buku, kitab kuno, babad dan pantun serta prasasti menjelaskan hal tersebut. Namun demikian, setelah lima abad lebih dan atau 70 tahun setelah Indonesia merdeka, Dua pemerintahan, yaitu Pemkot Bogor dan Pemkab Bogor belum memberikan porsi lebih terhadap upaya pelestarian peninggalan bersejarah.

Pada tahun 90’an pun, terjadi pengrusakan yang luar biasa terhadap situs sejarah di Rancamaya, sebuah kawasan yang berada sekitar lima kilometer di Selatan Bogor. Dimana terdapat Situs Badigul dan Telaga Maharena Wijaya yang menjadi tempat special bagi raja dan keluarga raja Pakwan Pajajaran, khususnya pada masa Sri Baduga Maharaja Kanjeng Prabu Siliwangi (Prabu Jayadewata).

Dalam kitab Nagara Kertabhumi 1-5 tertulis sebagai berikut;  Sang Maharaja Magawe pakarya ya ta Magawe sitwagheng Maharena Wijaya adalah tanya, Magawe Hawan ikang umareng kithaigeng Pakwan haw n umareng Wanagiri, amateguh kedatwan, sakwehira menyanyikan Resi kaula nira tinariman desa mangad bhutaken Sanghiyang agama teher kabinihajyan, kasatryan, apan ika pituhu denira Janapada sebuah, amateguh wadyabala, malapi matura-tura Pagelaran. paming uwang sakweh ireng sakeng ratu samanteng wus pinaribhawa amagehing desa mandala muwangpasusunnitiralya Pajajaran.

Adapun artinya kurang lebih “Sang Maharaja membuat karya besar, yaitu membangun telaga besar yang bernama Maharena Wijaya, membuat jalan yang menuju ke ibukota Pakwan dan jalan ke Wanagiri, memperteguh kedatuan, memberikan desa (perdikan) kepada semua pendeta dan pengiringnya untuk menggairahkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat.

Rancamaya memiliki mata air yang sangat jernih. Tahun 1960-an di hulu Cirancamaya ini ada sebuah situs makam kuno dengan pelataran berjari-jari kira-kira 7,50 meter tertutup hamparan rumput halus dan dikelilingi bambu pada setengah lingkaran. Dekat makam yang jelas kuno terdapat pohon badak setinggi 25 meter dan sebuah pohon beringin.

Sudah sangat jelas, kawasan Rancamaya saat ini pada masa lalu merupakan salah satu tempat khusus, tempat dimana raja dan keluarganya diyakini melakukan aktifitas peribadatan. Bahkan, juga diyakini sebagai tempat dipusarakannya Sang Maharaja Prabu Siliwangi (Prabu Jaya Dewata).

Lalu, kemana talaga besar Maharena Wijaya, dan Situs Badigul? Dewasa ini seluruh situs sudah dihancurkan orang. Kawasan Rancamaya kini berganti wajah menjadi kawasan pemukiman, Padang Golf, dan resort maupun hotel.

Saat ini hanya ada sisa-sisa yang berpotensi menjadi petunjuk akan adanya telaga besar di Rancamaya dan Situs Badigul. Namun, itu pun kini terancam hilang untuk kedua kalinya. Pertama, ketika dulu dimulai proses cut and field perumahan, dan kini proses fisik Proyek Tol Bocimi. Artinya, dua kali kawasan bersejarah ini terdampak oleh pembangunan fisik masa kini.(tjahyadi ermawan/Wikipedia/tim bogorhistoria dan  berbagai sumber)